Seperti biasa, keceriaan sore itu tak terhapuskan oleh sedikit tamparan gerimis. Bernyanyi, menertawakan 'kebegoan', bercerita sesuka hati, serta waktu tiga menit kita yang tak pernah terlupakan.
"Haduh...", rengek si Ryan saat langkah kaki kita mulai memasuki tempat parkir motor.
"
Lo kenapa, begooo...?" sahut salah seorang kawan.
"Tugas-tugas
gue belum pada kelar, bingung
gue!"
Aku tersenyum mendengarnya. Ya, jurusan kuliah kami lain daripada yang lain. Tak ada kata ujian di kamus jurusan kami. Yang ada hanyalah tugas - bagi mereka yang belum terbiasa - sangatlah 'wow', ditambah SKS (Sistem Kebut Semalam) -bukan Sistem Kredit Semeter- lah yang mereka anut. Runyamlah sudah! Sejurus gombal tercurahkan kepada sang Dosen 'tuk mendapatkan
extention.
"Ya udalah ya,
nggak usah dikerjain. Rempong!" jawabku sekenanya.
Jujur, selalu terbesit ketidaksukaanku jika ku dengar keluhan tentang tugas tanpa alasan yang menurutku ‘
nggak masuk akal’. '
Ngoceh'
bah kicauan burung tak membuat tugas selesai. Kerjakan! Itulah
the one and
only jawaban.
Just do it without more ado! "Ngawur
lo, Ey! Sembarangan aja
lo kalau ngomong!" Balasnya sedikit sewot.
"Ya
elo-nya rempong. Tinggal dikerjain aja gag mau, ya
gue bilang
nggak usah dikerjain." Aku pun tidak mau mengalah.
"Heh, trus kalau
gue nggak ngerjain nilai-nilai
gue gimana? Nilai
gue jelek dong!"
Deg.
Lagi.
Berulang.
Entah berapa kali.
Tak terhitung.
"Ambil aja tu nilai
gue!" jawabku yang semakin ngasal dan malas mendengar kata-kata setingkat lebih mengeluh dari mulutnya.
"Hah? Maksudnya?'". Tanyanya sambil garuk-garuk kepala.
"
Lo mau nilai baguskan? Ya
gue bilang, ambil tu nilai
gue." Timpalku satu tingkat lebih tinggi dari ngasal. Kepedean dapat nilai bagus! Kalau nilaiku jelek, setidaknya, kalau nilaiku ditambahi dengan nilai dia sendiri jadi lumayan banyak dan mungkin dia akan terpuaskan.
“Hehehe...” Ryan cengengesan. “Arrrgggghhh... Gimana nih, begooo?” Keluhnya lagi.
“Ngerjain tugas
kok gara-gara nilai!” Akhirnya kata-kata itu mencuat dari bibirku, meski telah kucoba menahannya namun telingaku tak sanggup lagi mendengar lebih dari keluhan. Ku tinggalkan dia dan ngeloyor ke motor klasikku.
“Lho, maksudnya? Trus karena apa dong? Trus-trus,
lo selama ini ngerjain tugas karena apa coba, kalau
nggak karena nilai?” ucapanku ditimpali si Ryan dengan pertanyaan yang kebanyakan kata ‘trus’.
Pura-pura ku tak mendengar pertanyaan yang membuat hatiku miris. Tuhan.... Kenapa? Lagi? Semuanya? Nilai? Pikiranku berkecamuk. Teman-temanku? Yang semangatnya ku hargai ‘tuk mencoba melakukan yang terbaik, ternyata? Arrrrgghhhhh.... Sejuta batu pertanyaan menghantam, perlahan namun menikam.
“Bego
lo!” tiba-tiba si Wulan nyeltuk. “Ey
nggak pernah mikirin nilainya dia, yang dia pentingin dari semua ini tu proses! P-r-o-s-e-s! Ya gag, Ey.” Tolehnya ke aku yang sedang memasang helm putih kesayanganku.
“
Yup!” jawabku singkat. Aku bersyukur bukan aku yang harus mengatakannya langsung.
“Ingat ‘3 idiots’
nggak? Yang penting tu prosesnya, bukan nilai!” Sahut si Dylan.
Aku sedikit lega, setidaknya aku tak perlu susah-susah ‘tuk memulai memadamkan bara perjuangan nilai si Ryan. Sedikit ku tunda menyalakan si ‘W’ biru. Tak peduli apa pendapatnya tentang aku dan apa yang akan ku katakan. Entah aku dianggap ‘sok’ atau apalah, aku tak perduli. Dalam hati, tulus ku berniat sudahilah semua ‘kesalahkapraan’ ini, kawan.
“Sekarang
gue tanya ke
lo. Lo bangga
nggak dengan nilai bagus tapi
lo-nya
nggak ngerti dengan materi itu atau dengan apa yang
lo kerjain itu?” Tanyaku menyederhanakan kondisi.
“Hmmm... Iya juga ya.
Enggak Ey.” Jawab Ryan polos.
“Trus kalau
nggak paham materi, gimana
lo bisa ngerjain tu tugas?” pertanyaan ku sodorkan lagi.
“Ya dikerjain aja. Iya ya.
Kok bisa ya?” Si Ryan mulai bingung dan perlahan mencoba mencerna semuanya.
Ya. Ini hanyalah suatu yang sangat sederhana, kawan. Namun, suatu yang sederhana itulah yang memancar-menarik kekuatan untuk diri kita.
“Tu kan,
lo-nya aja bingung, apalagi
gue!” Ku menatap temanku yang satu ini, teman yang baru ku kenal beberapa bulan terakhir.
“Heh bego,” panggilkku ‘memujinya’, “kalau
lo paham materi atau apapun itu, semuanya akan mengalir dengan sendirinya. Kalau
lo paham,
gue yakin, tanpa
lo ingin dapat nilai bagus, nilai
lo akan bagus dengan sendirinya.
Lo tahu kenapa? Karena
nggak mungkin kan kalau
lo paham dengan materi itu
lo nggak bisa ngerjain tugas tentang materi itu, pasti
lo bisa ngerjain dan tentu saja nilai
lo akan bagus,
AUTOMATICALLY!” Jelasku melebihi panjang rel kereta. (lebaaaaayyy... #plak)
“Iya ya, kenapa
gue baru nyadar? Bego!” Tanya si Ryan pada dirinya sendiri.
“Siapa yang bego?!” Ku balik bertanya dengan secercah senyum.
“
Gue” jawabnya yang lagi-lagi dengan ekspresi polos. (#pinginnabok.hahaha...V)
“Bego! Udah ah, kita sebenarnya lagi ngomong apa sih?”
“
Nggak tahu,” jawab Ryan tersennyum.
Ku tengok si Wulan yang sudah siap dengan motornya, “
nggak tahu tu tadi ngomongin apa”.
"Apa?” tolehku ke Dylan.
“
Gue juga
nggak tahu, begooo”, jawab Dylan sambil tersenyum, yang ku tahu apa maksud senyum itu. Aku pun membalasnya dengan anggukan. Ya, dari sekian teman-temanku, pikiran Dylan-lah yang terlalu sering seirama denganku. Dan kita tak pernah tahu mengapa. Takdir? Mungkin!
“Balik yuk, udah sore”, ajakku ke makhluk ciptaan Tuhan yang luar biasa yang mendedikasikan diri mereka sebagai pembela kebenaran dan pemusnah monster –mereka sendiri pun tidak tahu siapakah si monster itu-. (Bego!)
“Woi bego!
Lo mau balik
nggak? Atau mau jagain ni motor-motor?” Ucapku menyadarkan si Irsyad yang sedari tadi yang hanya terdiam mengikuti ‘percakapan sok ‘bego’ kami. (
Lho, percakapan bego
kok dilakukan! Hahaha....)
“Ya iya sih, masa aku di sini? Ryan, anterin
gue ke asrama.” Wajahnya memelas ke Ryan.
“Ya udah naik, dasar rempong!” jawab Ryan yang tak tega membiarkan si Irsyad jalan kaki, bisa-bisa tu badan kayak sapu lidi tu. (hahaha.... V)
“Ya kan
gue emang raja rempong”, balasnya dengan bangga.
“Idih... Dapat julukan raja rempong bangga! Dasar rempong!” nyerocosku.
“Udah ah, balik-balik”, ajaknya, mencoba menyudahi cek-cok mulut denganku yang pastinya aku tak akan mau mengalah dan berhenti bercek-cok ria.
“Hahahahaha......” tawa kita serentak melihat tingkah si rempong satu ini.
Brrrmmmmm.... Brrmmmm.... Suara motor yang selalu setia menemani si pemilik ke manapun ingin pergi. Detik ini, yang hanya bisa ku ajak berbicara hanyalah Tuhan dan hatiku. Toh aku tahu, tak kan ada yang menyahut suaraku, namun ku yakin, Tuhan kan menimpali suaraku dengan cara yang indah, luar biasa, dan tak pernah ku mengerti bagaimana caranya.
Inspired by: Muhammad Haqqi Riansyah dan Dani Ratrianasari.
Dedicated my ‘bego’ friends: especially, Dani Ratrianasari, Muhammad Haqqi Riansyah, Rudyanto, Fidiyah Retno Wulandari, Qori Septi Melrosi.
Yogyakarta, January 17, 2012
11.23 p.m.
Alpha Ey Sirius Syam
A Process VS A Mark
#Part 1#
Seperti biasa, keceriaan sore itu tak terhapuskan oleh sedikit tamparan gerimis. Bernyanyi, menertawakan 'kebegoan', bercerita sesuka hati, serta waktu tiga menit kita yang tak pernah terlupakan.
"Haduh...", rengek si Ryan saat langkah kaki kita mulai memasuki tempat parkir motor.
"
Lo kenapa, begooo...?" sahut salah seorang kawan.
"Tugas-tugas
gue belum pada kelar, bingung
gue!"
Aku tersenyum mendengarnya. Ya, jurusan kuliah kami lain daripada yang lain. Tak ada kata ujian di kamus jurusan kami. Yang ada hanyalah tugas - bagi mereka yang belum terbiasa - sangatlah 'wow', ditambah SKS (Sistem Kebut Semalam) -bukan Sistem Kredit Semeter- lah yang mereka anut. Runyamlah sudah! Sejurus gombal tercurahkan kepada sang Dosen 'tuk mendapatkan
extention.
"Ya udalah ya,
nggak usah dikerjain. Rempong!" jawabku sekenanya.
Jujur, selalu terbesit ketidaksukaanku jika ku dengar keluhan tentang tugas tanpa alasan yang menurutku ‘
nggak masuk akal’. '
Ngoceh'
bah kicauan burung tak membuat tugas selesai. Kerjakan! Itulah
the one and
only jawaban.
Just do it without more ado! "Ngawur
lo, Ey! Sembarangan aja
lo kalau ngomong!" Balasnya sedikit sewot.
"Ya
elo-nya rempong. Tinggal dikerjain aja gag mau, ya
gue bilang
nggak usah dikerjain." Aku pun tidak mau mengalah.
"Heh, trus kalau
gue nggak ngerjain nilai-nilai
gue gimana? Nilai
gue jelek dong!"
Deg.
Lagi.
Berulang.
Entah berapa kali.
Tak terhitung.
"Ambil aja tu nilai
gue!" jawabku yang semakin ngasal dan malas mendengar kata-kata setingkat lebih mengeluh dari mulutnya.
"Hah? Maksudnya?'". Tanyanya sambil garuk-garuk kepala.
"
Lo mau nilai baguskan? Ya
gue bilang, ambil tu nilai
gue." Timpalku satu tingkat lebih tinggi dari ngasal. Kepedean dapat nilai bagus! Kalau nilaiku jelek, setidaknya, kalau nilaiku ditambahi dengan nilai dia sendiri jadi lumayan banyak dan mungkin dia akan terpuaskan.
“Hehehe...” Ryan cengengesan. “Arrrgggghhh... Gimana nih, begooo?” Keluhnya lagi.
“Ngerjain tugas
kok gara-gara nilai!” Akhirnya kata-kata itu mencuat dari bibirku, meski telah kucoba menahannya namun telingaku tak sanggup lagi mendengar lebih dari keluhan. Ku tinggalkan dia dan ngeloyor ke motor klasikku.
“Lho, maksudnya? Trus karena apa dong? Trus-trus,
lo selama ini ngerjain tugas karena apa coba, kalau
nggak karena nilai?” ucapanku ditimpali si Ryan dengan pertanyaan yang kebanyakan kata ‘trus’.
Pura-pura ku tak mendengar pertanyaan yang membuat hatiku miris. Tuhan.... Kenapa? Lagi? Semuanya? Nilai? Pikiranku berkecamuk. Teman-temanku? Yang semangatnya ku hargai ‘tuk mencoba melakukan yang terbaik, ternyata? Arrrrgghhhhh.... Sejuta batu pertanyaan menghantam, perlahan namun menikam.
“Bego
lo!” tiba-tiba si Wulan nyeltuk. “Ey
nggak pernah mikirin nilainya dia, yang dia pentingin dari semua ini tu proses! P-r-o-s-e-s! Ya gag, Ey.” Tolehnya ke aku yang sedang memasang helm putih kesayanganku.
“
Yup!” jawabku singkat. Aku bersyukur bukan aku yang harus mengatakannya langsung.
“Ingat ‘3 idiots’
nggak? Yang penting tu prosesnya, bukan nilai!” Sahut si Dylan.
Aku sedikit lega, setidaknya aku tak perlu susah-susah ‘tuk memulai memadamkan bara perjuangan nilai si Ryan. Sedikit ku tunda menyalakan si ‘W’ biru. Tak peduli apa pendapatnya tentang aku dan apa yang akan ku katakan. Entah aku dianggap ‘sok’ atau apalah, aku tak perduli. Dalam hati, tulus ku berniat sudahilah semua ‘kesalahkapraan’ ini, kawan.
“Sekarang
gue tanya ke
lo. Lo bangga
nggak dengan nilai bagus tapi
lo-nya
nggak ngerti dengan materi itu atau dengan apa yang
lo kerjain itu?” Tanyaku menyederhanakan kondisi.
“Hmmm... Iya juga ya.
Enggak Ey.” Jawab Ryan polos.
“Trus kalau
nggak paham materi, gimana
lo bisa ngerjain tu tugas?” pertanyaan ku sodorkan lagi.
“Ya dikerjain aja. Iya ya.
Kok bisa ya?” Si Ryan mulai bingung dan perlahan mencoba mencerna semuanya.
Ya. Ini hanyalah suatu yang sangat sederhana, kawan. Namun, suatu yang sederhana itulah yang memancar-menarik kekuatan untuk diri kita.
“Tu kan,
lo-nya aja bingung, apalagi
gue!” Ku menatap temanku yang satu ini, teman yang baru ku kenal beberapa bulan terakhir.
“Heh bego,” panggilkku ‘memujinya’, “kalau
lo paham materi atau apapun itu, semuanya akan mengalir dengan sendirinya. Kalau
lo paham,
gue yakin, tanpa
lo ingin dapat nilai bagus, nilai
lo akan bagus dengan sendirinya.
Lo tahu kenapa? Karena
nggak mungkin kan kalau
lo paham dengan materi itu
lo nggak bisa ngerjain tugas tentang materi itu, pasti
lo bisa ngerjain dan tentu saja nilai
lo akan bagus,
AUTOMATICALLY!” Jelasku melebihi panjang rel kereta. (lebaaaaayyy... #plak)
“Iya ya, kenapa
gue baru nyadar? Bego!” Tanya si Ryan pada dirinya sendiri.
“Siapa yang bego?!” Ku balik bertanya dengan secercah senyum.
“
Gue” jawabnya yang lagi-lagi dengan ekspresi polos. (#pinginnabok.hahaha...V)
“Bego! Udah ah, kita sebenarnya lagi ngomong apa sih?”
“
Nggak tahu,” jawab Ryan tersennyum.
Ku tengok si Wulan yang sudah siap dengan motornya, “
nggak tahu tu tadi ngomongin apa”.
"Apa?” tolehku ke Dylan.
“
Gue juga
nggak tahu, begooo”, jawab Dylan sambil tersenyum, yang ku tahu apa maksud senyum itu. Aku pun membalasnya dengan anggukan. Ya, dari sekian teman-temanku, pikiran Dylan-lah yang terlalu sering seirama denganku. Dan kita tak pernah tahu mengapa. Takdir? Mungkin!
“Balik yuk, udah sore”, ajakku ke makhluk ciptaan Tuhan yang luar biasa yang mendedikasikan diri mereka sebagai pembela kebenaran dan pemusnah monster –mereka sendiri pun tidak tahu siapakah si monster itu-. (Bego!)
“Woi bego!
Lo mau balik
nggak? Atau mau jagain ni motor-motor?” Ucapku menyadarkan si Irsyad yang sedari tadi yang hanya terdiam mengikuti ‘percakapan sok ‘bego’ kami. (
Lho, percakapan bego
kok dilakukan! Hahaha....)
“Ya iya sih, masa aku di sini? Ryan, anterin
gue ke asrama.” Wajahnya memelas ke Ryan.
“Ya udah naik, dasar rempong!” jawab Ryan yang tak tega membiarkan si Irsyad jalan kaki, bisa-bisa tu badan kayak sapu lidi tu. (hahaha.... V)
“Ya kan
gue emang raja rempong”, balasnya dengan bangga.
“Idih... Dapat julukan raja rempong bangga! Dasar rempong!” nyerocosku.
“Udah ah, balik-balik”, ajaknya, mencoba menyudahi cek-cok mulut denganku yang pastinya aku tak akan mau mengalah dan berhenti bercek-cok ria.
“Hahahahaha......” tawa kita serentak melihat tingkah si rempong satu ini.
Brrrmmmmm.... Brrmmmm.... Suara motor yang selalu setia menemani si pemilik ke manapun ingin pergi. Detik ini, yang hanya bisa ku ajak berbicara hanyalah Tuhan dan hatiku. Toh aku tahu, tak kan ada yang menyahut suaraku, namun ku yakin, Tuhan kan menimpali suaraku dengan cara yang indah, luar biasa, dan tak pernah ku mengerti bagaimana caranya.
Inspired by: Muhammad Haqqi Riansyah.
Dedicated my ‘bego’ friends: especially, Dani Ratrianasari, Muhammad Haqqi Riansyah, Rudyanto, Fidiyah Retno Wulandari, Qori Septi Melrosi.
Yogyakarta, January 17, 2012
11.23 p.m.
Alpha Ey Sirius Syam