Jumat, 20 Januari 2012

A Process VS A Mark #Part 2#

Dylan berkendara tepat di depanku. Masih teringat senyumnya tadi di parkiran motor. Melakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan sekarang, ‘di tempat ini’ dan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dylan, kau. Ya, semua kan berakhir dengan indah, kalau tidak indah, itu bukanlah sebuah akhir.

Pandanganku teralih kepada gadis yang dibonceng Dylan. Gadis serba hijau yang sedari tadi hampir tak ku dengar celotehannya. Gadis yang selalu nimbrung dan mau berteman dengan kelima orang ‘bego’. Dialah yang sempat ‘menguntit’ceritaku. Dia yang sempat menjadi sasaran ‘pengklarifikasian’ dari apa yang terjadi.

Sore itu ku mampir ke kamarnya, kamar yang entah berapa kali telah dia ubah designnya. ‘......lulus dengan nilai bagus, dapat kerja.......’ Aku tersenyum membaca tulisan di atas kertas warna merah yang tertempel di jendela kamarnya. Yang menjadi perhatian utamaku, NILAI!

 

“Kamu tahu nggak  satu hal yag membuat kamu tak pernah mendapatkan nilai sebagus yang kau inginkan?” Tanyakku pada Triana saat mata kuliah –yang katanya academic- berlangsung (seperti biasa disuruh si dosen diskusi materi tapi yang ada malah ngobrol), setelah beberapa kali dia memintaku untuk belajar bersama dan mengeluh tak bisa membayangkan seperti apakah IP pertamanya nanti. Dia merasa tak akan seperti yang dia inginkan, cum laude!

 

Enggak, Ey. Emang apaan?” dengan wajah kusut (emangnya baju yang nggak disetrika!) dan balik bertanya.

 

“Jawabannya karena kau mengejar nilai itu”, Jawabku sembari tersenyum.

 

Kali ini dia mengusap-usap wajahnya bah berwudhu membasuh muka, “Maksudnya, Ey? Nggak ngerti.”

 

“Apa aja boleh”, ngasal. Mencoba mencairkan suasana.

 

“Hassshhhhh....” desahnya kesal.

 

“Hahahaha....”, tawaku.

 

“Ya, elo-nya. Gue lagi serius, lo bercanda mulu,” keluhnya jengkel.

 

“Santai ajalah, Tri”, pintaku. “Dilanjutin nggak ni?”

 

“Ya iyalah.”

 

“Gini, lo pingin dapat cum laude kan?”

 

Triana hanya menjawabnya dengan anggukan.

 

Gue nggak munafik, gue juga pingin bisa cum laude. Semua yang ada di kelas ini pun pasti ingin cum laude.

 

“Trus?”

 

“Biar cum laude nilai IP kita harus berapa?”

 

“Minimal 3.8 atau 3.7 ya? Lupa gue” jawab Tria mencoba mengingat-ingat.

 

“Ya udah, 3.7, 3.8 atau berapa pun, gue nggak perduli. Di situlah perbedaan kita, Tri.”

 

“Maksudnya gimana, Ey? Gue makin nggak ngerti.”

 

“Oke, sekarang gue tanya ke elo. Gimana biar kita bisa dapat tu nilai?”’

 

“Ya dari tugas kita lah, kita kan nggak ada ujian.”

 

“Jadi lo ngerjain tugas biar dapat nilai, gitu?”

 

“Ya buat apa lagi kalau nggak buat dapat nilai?”

 

“Trus lo pasang target berapa nilai yang harus lo dapat?”

 

“He’em, kalau nggak gitu gue ngerjain tugas ngasal”.

 

Aku tersenyum.

 

“Triana, gue pernah mengalami masa di mana aku berada di atas bahkan di bawah. Gue yakin lo juga gitu. Gue pernah ingin dapat nilai 97 di mata pelajaran ‘Y’. Gue cerita ke gurunya. Tahu nggak apa yang guru itu bilang?’

 

“Apa?”

 

“Beliau bilang gue nggak akan pernah dapetin nilai itu”.

 

Kok bisa? Wah gurumu membunuh karakter tu, Ey.’

 

“Awalnya gue juga mikir seperti itu, tapi beliau bilang jangan pernah menarget nilai! Lo tau nggak nilai tes pertama gue di mata pelajaran ‘Y’, 40, Tri. Lo bisa bayangin nggak perasaan gue dapat nilai yang seumur-umur belum pernah gue dapat. Shocked. Namun, mulai saat itu gue mulai memikirkan kata-kata guru gue.

 

Gue ubah mind set gue, jujur gue pingin dapetin nilai itu, tapi dengan sekuat hati gue hapus nilai itu dalam memori gue.”

 

“Caranya, Ey?”

 

“Oke, gue tadi bilang kalau gue juga pingin cum laude kan?”

 

“He’em”, Sahut Tria pendek, serius mendengarkan ceritaku yang panjangnya melebihi daratan Indonesia.

 

“Untuk dapat itu kita harus memenuhi beberapa syarat kan?”

 

“Iya”, masih singkat jawaban temanku yang satu ini.

 

“Kita ambil contoh gampangnya nilai A. Untuk dapat nilai A kita harus memenuhi beberapa syarat. Misalnya lo harus bisa menulis, membaca, harus komunikatif atau yang lainnya. Yang harus lo kejar adalah gimana caranya lo bisa menulis, membaca, komunikatif atau apalah. Proses, Tri. Dari belum bisa menjadi bisa.

 

“Jangan ibaratkan nilai itu sebuah titik tengah lingkaran yang menjadi target utama kita. Untuk mencapai titik itu, bukankah kita harus membentuk simetris-simetris yang harus kita penuhi? Simetris-simetris yang menjadi jembatan kita yang akan mengantarkan kita ke titik itu dengan sendirinya.

 

“Jadi Tri, proses itulah yang harus kita perjuangkan, orang mendapat nilai A dengan memeras keringat lebih bersejarah daripada mereka yang mendapatkannya dengan mudah, mereka tidak punya cerita. Penuhilah syarat-syarat itu, itulah proses. Bukan menggenggam puncak tanpa rasa letihnya kaki.”

 

“Oh... Mungkin karena itu, Ey. Selama ini gue selalu target nilai, ngejar nilai bagus.”

 

“Santai aja, masih ada waktu, ingat semua itu proses! Jangan instant mulu!”

 

“Emang ****mie, instant!”

 

“Ya mungkin aja. Oy, satu hal lagi yang penting.”

 

“Apa?”

 

“IKHLAS. Kerjain semuanya dengan ikhlas, nikmatilah proses itu, jangan anggap sebagai beban.”

 

 

“Attention please! Have you finished your discussion?” Tiba-tiba sang Bapak dosen mengalihkan perhatian kita.

 

“Ok, please make it be individual assignment and send it to e-Learning”, Lanjut si Dosen.

 

“Tu Ey, ‘tugas pertama’ gue, lo juga yang ikhlas!”

 

Gue dari dulu mah ikhlas!”

 

“Maksud gue, ikhlas sekalian kerjain tugas gue!’

 

“Sial! Enak aja lo

 

“Hahahha....” tawa kita menyatu.

 

Tersenyum, senang. Seolah ada sesuatu yang terlepas. Lega. Terima kasih, Tuhan. Kawan, kita mendapatkan gelar bukanlah karena nilai kita, tapi karena kita pantas mendapatkan gelar itu. Sejauh mana kita mencoba memantaskan diri kita, proseslah yang menjawab, bukan akhir! (-Alpha Ey Sirius Syam-)

 

Inspired by: Dani Ratrianasari.

Dedicated my ‘bego’ friends: especially, Dani Ratrianasari, Muhammad Haqqi Riansyah, Rudyanto, Fidiyah Retno Wulandari, Qori Septi Melrosi.

 

Yogyakarta, January 18, 2012


02.13 a.m.




Alpha Ey Sirius Syam

A Process VS A Mark #Part 1#

Seperti biasa, keceriaan sore itu tak terhapuskan oleh sedikit tamparan gerimis. Bernyanyi, menertawakan 'kebegoan', bercerita sesuka hati, serta waktu tiga menit kita yang tak pernah terlupakan.

 

"Haduh...", rengek si Ryan saat langkah kaki kita mulai memasuki tempat parkir motor.

 

"Lo kenapa, begooo...?" sahut salah seorang kawan.

 

"Tugas-tugas gue belum pada kelar, bingung gue!"

 

Aku tersenyum mendengarnya. Ya, jurusan kuliah kami lain daripada yang lain. Tak ada kata ujian di kamus jurusan kami. Yang ada hanyalah tugas - bagi mereka yang belum terbiasa - sangatlah 'wow', ditambah SKS (Sistem Kebut Semalam) -bukan Sistem Kredit Semeter- lah yang mereka anut. Runyamlah sudah! Sejurus gombal tercurahkan kepada sang Dosen 'tuk mendapatkan extention.

 

"Ya udalah ya, nggak usah dikerjain. Rempong!" jawabku sekenanya.

 

Jujur, selalu terbesit ketidaksukaanku jika ku dengar keluhan tentang tugas tanpa alasan yang menurutku ‘nggak masuk akal’. 'Ngoceh' bah kicauan burung tak membuat tugas selesai. Kerjakan! Itulah the one and only jawaban. Just do it without more ado!

 

"Ngawur lo, Ey! Sembarangan aja lo kalau ngomong!" Balasnya sedikit sewot.

 

"Ya elo-nya rempong. Tinggal dikerjain aja gag mau, ya gue bilang nggak usah dikerjain." Aku pun tidak mau mengalah.

 

"Heh, trus kalau gue nggak ngerjain nilai-nilai gue gimana? Nilai gue jelek dong!"

 

Deg.

Lagi.

Berulang.

Entah berapa kali.

Tak terhitung.

 

"Ambil aja tu nilai gue!" jawabku yang semakin ngasal dan malas mendengar kata-kata setingkat lebih mengeluh dari mulutnya.

 

"Hah? Maksudnya?'". Tanyanya sambil garuk-garuk kepala.

 

"Lo mau nilai baguskan? Ya gue bilang, ambil tu nilai gue." Timpalku satu tingkat lebih tinggi dari ngasal. Kepedean dapat nilai bagus! Kalau nilaiku jelek, setidaknya, kalau nilaiku ditambahi dengan nilai dia sendiri jadi lumayan banyak dan mungkin dia akan terpuaskan.

 

“Hehehe...” Ryan cengengesan. “Arrrgggghhh... Gimana nih, begooo?” Keluhnya lagi.

 

“Ngerjain tugas kok gara-gara nilai!” Akhirnya kata-kata itu mencuat dari bibirku, meski telah kucoba menahannya namun telingaku tak sanggup lagi mendengar lebih dari keluhan. Ku tinggalkan dia dan ngeloyor ke motor klasikku.

 

“Lho, maksudnya? Trus karena apa dong? Trus-trus, lo selama ini ngerjain tugas karena apa coba, kalau nggak karena nilai?” ucapanku ditimpali si Ryan dengan pertanyaan yang kebanyakan kata ‘trus’.

Pura-pura ku tak mendengar pertanyaan yang membuat hatiku miris. Tuhan.... Kenapa? Lagi? Semuanya? Nilai? Pikiranku berkecamuk. Teman-temanku? Yang semangatnya ku hargai ‘tuk mencoba melakukan yang terbaik, ternyata? Arrrrgghhhhh.... Sejuta batu pertanyaan menghantam, perlahan namun menikam.

 

“Bego lo!” tiba-tiba si Wulan nyeltuk. “Ey nggak pernah mikirin nilainya dia, yang dia pentingin dari semua ini tu proses! P-r-o-s-e-s! Ya gag, Ey.” Tolehnya ke aku yang sedang memasang helm putih kesayanganku.

 

Yup!” jawabku singkat. Aku bersyukur bukan aku yang harus mengatakannya langsung.

 

“Ingat ‘3 idiots’ nggak? Yang penting tu prosesnya, bukan nilai!” Sahut si Dylan.

 

Aku sedikit lega, setidaknya aku tak perlu susah-susah ‘tuk memulai memadamkan bara perjuangan nilai si Ryan. Sedikit ku tunda menyalakan si ‘W’ biru. Tak peduli apa pendapatnya tentang aku dan apa yang akan ku katakan. Entah aku dianggap ‘sok’ atau apalah, aku tak perduli. Dalam hati, tulus ku berniat sudahilah semua ‘kesalahkapraan’ ini, kawan.

 

“Sekarang gue tanya ke lo. Lo bangga nggak dengan nilai bagus tapi lo-nya nggak ngerti dengan materi itu atau dengan apa yang lo kerjain itu?” Tanyaku menyederhanakan kondisi.

 

“Hmmm... Iya juga ya. Enggak Ey.” Jawab Ryan polos.

 

“Trus kalau nggak paham materi, gimana lo bisa ngerjain tu tugas?” pertanyaan ku sodorkan lagi.

 

“Ya dikerjain aja. Iya ya. Kok bisa ya?” Si Ryan mulai bingung dan perlahan mencoba mencerna semuanya.

 

Ya. Ini hanyalah suatu yang sangat sederhana, kawan. Namun, suatu yang sederhana itulah yang memancar-menarik kekuatan untuk diri kita.

 

“Tu kan, lo-nya aja bingung, apalagi gue!” Ku menatap temanku yang satu ini, teman yang baru ku kenal beberapa bulan terakhir.

 

“Heh bego,” panggilkku ‘memujinya’, “kalau lo paham materi atau apapun itu, semuanya akan mengalir dengan sendirinya. Kalau lo paham, gue yakin, tanpa lo ingin dapat nilai bagus, nilai lo akan bagus dengan sendirinya. Lo tahu kenapa? Karena nggak mungkin kan kalau lo paham dengan materi itu lo nggak bisa ngerjain tugas tentang materi itu, pasti lo bisa ngerjain dan tentu saja nilai lo akan bagus, AUTOMATICALLY!” Jelasku melebihi panjang rel kereta. (lebaaaaayyy... #plak)

 

“Iya ya, kenapa gue baru nyadar? Bego!” Tanya si Ryan pada dirinya sendiri.

 

“Siapa yang bego?!” Ku balik bertanya dengan secercah senyum.

 

Gue” jawabnya yang lagi-lagi dengan ekspresi polos. (#pinginnabok.hahaha...V)

 

“Bego! Udah ah, kita sebenarnya lagi ngomong apa sih?”

 

Nggak tahu,” jawab Ryan tersennyum.

 

Ku tengok si Wulan yang sudah siap dengan motornya, “nggak tahu tu tadi ngomongin apa”.

 

"Apa?” tolehku ke Dylan.

 

Gue juga nggak tahu, begooo”, jawab Dylan sambil tersenyum, yang ku tahu apa maksud senyum itu. Aku pun membalasnya dengan anggukan. Ya, dari sekian teman-temanku, pikiran Dylan-lah yang terlalu sering seirama denganku. Dan kita tak pernah tahu mengapa. Takdir? Mungkin!

 

“Balik yuk, udah sore”, ajakku ke makhluk ciptaan Tuhan yang luar biasa yang mendedikasikan diri mereka sebagai pembela kebenaran dan pemusnah monster –mereka sendiri pun tidak tahu siapakah si monster itu-. (Bego!)

 

“Woi bego! Lo mau balik nggak? Atau mau jagain ni motor-motor?” Ucapku menyadarkan si Irsyad yang sedari tadi yang hanya terdiam mengikuti ‘percakapan sok ‘bego’ kami. (Lho, percakapan bego kok dilakukan! Hahaha....)

 

“Ya iya sih, masa aku di sini? Ryan, anterin gue ke asrama.” Wajahnya memelas ke Ryan.

 

“Ya udah naik, dasar rempong!” jawab Ryan yang tak tega membiarkan si Irsyad jalan kaki, bisa-bisa tu badan kayak sapu lidi tu. (hahaha.... V)

 

“Ya kan gue emang raja rempong”, balasnya dengan bangga.

 

“Idih... Dapat julukan raja rempong bangga! Dasar rempong!” nyerocosku.

 

“Udah ah, balik-balik”, ajaknya, mencoba menyudahi cek-cok mulut denganku yang pastinya aku tak akan mau mengalah dan berhenti bercek-cok ria.

 

“Hahahahaha......” tawa kita serentak melihat tingkah si rempong satu ini.

 

 

Brrrmmmmm.... Brrmmmm.... Suara motor yang selalu setia menemani si pemilik ke manapun ingin pergi. Detik ini, yang hanya bisa ku ajak berbicara hanyalah Tuhan dan hatiku. Toh aku tahu, tak kan ada yang menyahut suaraku, namun ku yakin, Tuhan kan menimpali suaraku dengan cara yang indah, luar biasa, dan tak pernah ku mengerti bagaimana caranya.

 

 

Inspired by: Muhammad Haqqi Riansyah dan Dani Ratrianasari.

 

Dedicated my ‘bego’ friends: especially, Dani Ratrianasari, Muhammad Haqqi Riansyah, Rudyanto, Fidiyah Retno Wulandari, Qori Septi Melrosi.

 

Yogyakarta, January 17, 2012


11.23  p.m.


Alpha Ey Sirius Syam


A Process VS A Mark


#Part 1#


Seperti biasa, keceriaan sore itu tak terhapuskan oleh sedikit tamparan gerimis. Bernyanyi, menertawakan 'kebegoan', bercerita sesuka hati, serta waktu tiga menit kita yang tak pernah terlupakan.

 

"Haduh...", rengek si Ryan saat langkah kaki kita mulai memasuki tempat parkir motor.

 

"Lo kenapa, begooo...?" sahut salah seorang kawan.

 

"Tugas-tugas gue belum pada kelar, bingung gue!"

 

Aku tersenyum mendengarnya. Ya, jurusan kuliah kami lain daripada yang lain. Tak ada kata ujian di kamus jurusan kami. Yang ada hanyalah tugas - bagi mereka yang belum terbiasa - sangatlah 'wow', ditambah SKS (Sistem Kebut Semalam) -bukan Sistem Kredit Semeter- lah yang mereka anut. Runyamlah sudah! Sejurus gombal tercurahkan kepada sang Dosen 'tuk mendapatkan extention.

 

"Ya udalah ya, nggak usah dikerjain. Rempong!" jawabku sekenanya.

 

Jujur, selalu terbesit ketidaksukaanku jika ku dengar keluhan tentang tugas tanpa alasan yang menurutku ‘nggak masuk akal’. 'Ngoceh' bah kicauan burung tak membuat tugas selesai. Kerjakan! Itulah the one and only jawaban. Just do it without more ado!

 

"Ngawur lo, Ey! Sembarangan aja lo kalau ngomong!" Balasnya sedikit sewot.

 

"Ya elo-nya rempong. Tinggal dikerjain aja gag mau, ya gue bilang nggak usah dikerjain." Aku pun tidak mau mengalah.

 

"Heh, trus kalau gue nggak ngerjain nilai-nilai gue gimana? Nilai gue jelek dong!"

 

Deg.

Lagi.

Berulang.

Entah berapa kali.

Tak terhitung.

 

"Ambil aja tu nilai gue!" jawabku yang semakin ngasal dan malas mendengar kata-kata setingkat lebih mengeluh dari mulutnya.

 

"Hah? Maksudnya?'". Tanyanya sambil garuk-garuk kepala.

 

"Lo mau nilai baguskan? Ya gue bilang, ambil tu nilai gue." Timpalku satu tingkat lebih tinggi dari ngasal. Kepedean dapat nilai bagus! Kalau nilaiku jelek, setidaknya, kalau nilaiku ditambahi dengan nilai dia sendiri jadi lumayan banyak dan mungkin dia akan terpuaskan.

 

“Hehehe...” Ryan cengengesan. “Arrrgggghhh... Gimana nih, begooo?” Keluhnya lagi.

 

“Ngerjain tugas kok gara-gara nilai!” Akhirnya kata-kata itu mencuat dari bibirku, meski telah kucoba menahannya namun telingaku tak sanggup lagi mendengar lebih dari keluhan. Ku tinggalkan dia dan ngeloyor ke motor klasikku.

 

“Lho, maksudnya? Trus karena apa dong? Trus-trus, lo selama ini ngerjain tugas karena apa coba, kalau nggak karena nilai?” ucapanku ditimpali si Ryan dengan pertanyaan yang kebanyakan kata ‘trus’.

Pura-pura ku tak mendengar pertanyaan yang membuat hatiku miris. Tuhan.... Kenapa? Lagi? Semuanya? Nilai? Pikiranku berkecamuk. Teman-temanku? Yang semangatnya ku hargai ‘tuk mencoba melakukan yang terbaik, ternyata? Arrrrgghhhhh.... Sejuta batu pertanyaan menghantam, perlahan namun menikam.

 

“Bego lo!” tiba-tiba si Wulan nyeltuk. “Ey nggak pernah mikirin nilainya dia, yang dia pentingin dari semua ini tu proses! P-r-o-s-e-s! Ya gag, Ey.” Tolehnya ke aku yang sedang memasang helm putih kesayanganku.

 

Yup!” jawabku singkat. Aku bersyukur bukan aku yang harus mengatakannya langsung.

 

“Ingat ‘3 idiots’ nggak? Yang penting tu prosesnya, bukan nilai!” Sahut si Dylan.

 

Aku sedikit lega, setidaknya aku tak perlu susah-susah ‘tuk memulai memadamkan bara perjuangan nilai si Ryan. Sedikit ku tunda menyalakan si ‘W’ biru. Tak peduli apa pendapatnya tentang aku dan apa yang akan ku katakan. Entah aku dianggap ‘sok’ atau apalah, aku tak perduli. Dalam hati, tulus ku berniat sudahilah semua ‘kesalahkapraan’ ini, kawan.

 

“Sekarang gue tanya ke lo. Lo bangga nggak dengan nilai bagus tapi lo-nya nggak ngerti dengan materi itu atau dengan apa yang lo kerjain itu?” Tanyaku menyederhanakan kondisi.

 

“Hmmm... Iya juga ya. Enggak Ey.” Jawab Ryan polos.

 

“Trus kalau nggak paham materi, gimana lo bisa ngerjain tu tugas?” pertanyaan ku sodorkan lagi.

 

“Ya dikerjain aja. Iya ya. Kok bisa ya?” Si Ryan mulai bingung dan perlahan mencoba mencerna semuanya.

 

Ya. Ini hanyalah suatu yang sangat sederhana, kawan. Namun, suatu yang sederhana itulah yang memancar-menarik kekuatan untuk diri kita.

 

“Tu kan, lo-nya aja bingung, apalagi gue!” Ku menatap temanku yang satu ini, teman yang baru ku kenal beberapa bulan terakhir.

 

“Heh bego,” panggilkku ‘memujinya’, “kalau lo paham materi atau apapun itu, semuanya akan mengalir dengan sendirinya. Kalau lo paham, gue yakin, tanpa lo ingin dapat nilai bagus, nilai lo akan bagus dengan sendirinya. Lo tahu kenapa? Karena nggak mungkin kan kalau lo paham dengan materi itu lo nggak bisa ngerjain tugas tentang materi itu, pasti lo bisa ngerjain dan tentu saja nilai lo akan bagus, AUTOMATICALLY!” Jelasku melebihi panjang rel kereta. (lebaaaaayyy... #plak)

 

“Iya ya, kenapa gue baru nyadar? Bego!” Tanya si Ryan pada dirinya sendiri.

 

“Siapa yang bego?!” Ku balik bertanya dengan secercah senyum.

 

Gue” jawabnya yang lagi-lagi dengan ekspresi polos. (#pinginnabok.hahaha...V)

 

“Bego! Udah ah, kita sebenarnya lagi ngomong apa sih?”

 

Nggak tahu,” jawab Ryan tersennyum.

 

Ku tengok si Wulan yang sudah siap dengan motornya, “nggak tahu tu tadi ngomongin apa”.

 

"Apa?” tolehku ke Dylan.

 

Gue juga nggak tahu, begooo”, jawab Dylan sambil tersenyum, yang ku tahu apa maksud senyum itu. Aku pun membalasnya dengan anggukan. Ya, dari sekian teman-temanku, pikiran Dylan-lah yang terlalu sering seirama denganku. Dan kita tak pernah tahu mengapa. Takdir? Mungkin!

 

“Balik yuk, udah sore”, ajakku ke makhluk ciptaan Tuhan yang luar biasa yang mendedikasikan diri mereka sebagai pembela kebenaran dan pemusnah monster –mereka sendiri pun tidak tahu siapakah si monster itu-. (Bego!)

 

“Woi bego! Lo mau balik nggak? Atau mau jagain ni motor-motor?” Ucapku menyadarkan si Irsyad yang sedari tadi yang hanya terdiam mengikuti ‘percakapan sok ‘bego’ kami. (Lho, percakapan bego kok dilakukan! Hahaha....)

 

“Ya iya sih, masa aku di sini? Ryan, anterin gue ke asrama.” Wajahnya memelas ke Ryan.

 

“Ya udah naik, dasar rempong!” jawab Ryan yang tak tega membiarkan si Irsyad jalan kaki, bisa-bisa tu badan kayak sapu lidi tu. (hahaha.... V)

 

“Ya kan gue emang raja rempong”, balasnya dengan bangga.

 

“Idih... Dapat julukan raja rempong bangga! Dasar rempong!” nyerocosku.

 

“Udah ah, balik-balik”, ajaknya, mencoba menyudahi cek-cok mulut denganku yang pastinya aku tak akan mau mengalah dan berhenti bercek-cok ria.

 

“Hahahahaha......” tawa kita serentak melihat tingkah si rempong satu ini.

 

 

Brrrmmmmm.... Brrmmmm.... Suara motor yang selalu setia menemani si pemilik ke manapun ingin pergi. Detik ini, yang hanya bisa ku ajak berbicara hanyalah Tuhan dan hatiku. Toh aku tahu, tak kan ada yang menyahut suaraku, namun ku yakin, Tuhan kan menimpali suaraku dengan cara yang indah, luar biasa, dan tak pernah ku mengerti bagaimana caranya.

 

 

Inspired by: Muhammad Haqqi Riansyah.

 

Dedicated my ‘bego’ friends: especially, Dani Ratrianasari, Muhammad Haqqi Riansyah, Rudyanto, Fidiyah Retno Wulandari, Qori Septi Melrosi.

 

Yogyakarta, January 17, 2012


11.23  p.m.


Alpha Ey Sirius Syam

Hatiku Berbisik

Kita mengejar waktu  atau kita dikejar waktu.

 

Kita tak pernah tau.

 

 

Teringat perkataan seorang teman semasa SMA bahwa kamu tidak akan pernah tahu rasanya suatu hal itu terjadi jika kau TIDAK MENGALAMINYA SENDIRI!

 

Dan Tuhan menghendaki aku mengalaminya.

 

Dulu aku selalu betanya-tanya “waktu adalah uang”, is it right? Istilah yang anak play group saja mengenalnya. Istilah yang bagiku -saat itu- hanyalah sebuah istilah yang selalu berselaras dengan seorang yang sedang berpidato tentang the importance of time atau pun seorang motivator yang selalu didatangkan di sekolah-sekolah untuk membangkitkan siwa/siswi kelas akhir yang akan mmenghadapi ujian nasional agar mau belajar.

 

Kuakui aku tak suka dengan waktu luangku yang hanya ku isi dengan merebahkan tubuh di atas kasur, menikmati dinginnya angin yang terperangkap di dalam kamar miniku (gara-gara kalau belum nyalain kipas angin rasanya gag afdhol, #plak hahaha....).  Lebih baik aku bermain dengan teman-teman atau pun mengahabiskan bensin motorku keliling entah ke mana, the important thing aku tidak membekukan diriku dalam kamar. Lying on my bed. Not doing anything. (Lho, ko jadi lagunya J**** M*** -maaf sensor, aku tidak dibayar untuk promosi- hahaha....).

 

Entah sengaja lupa atau memang lupa, saat rasa kebosanan mencoba mengalahkanku seolah semua yang harus kuraih perlahan kusangsikan. I just did what I wanted to do. Sampai suatu ketika aku ingin merasakan masa itu lagi. Masa di mana aku mulai berani dan bersemangat mengukir mimpi-mimpi dengan kawan-kawan terhebatku. Mimpi yang ‘gila’! Benar-benar ‘gila’! Yang mana kita tak akan menyebut itu sebuah mimpi jika itu bukanlah sebuah hal yang ‘gila’. Terdengar konyol namun itulah aku dan masa itu.

 

Mengukir mimpi dan tak tahu kapan kan menjadi fakta. Senang. Indah. Mereka mengajarkanku berbagai hal. Dan unfortunatelly, aku masih tak merasakan “waktu adalah uang”. Masih dan masih hanya sebuah istilah. Aku sendiri heran mengapa istilah itu tak berpengaruh dan tidak ada efeknya sedukit pun. Aku ceritakan kepadamu, kawan, kisah yang ku alami namun aku tak menyadari hingga aku pergi dari tempat itu dan hanya disadarkan oleh sebuah catatan seorang kawan yang tak begitu ku kenal.

 

Di tempat di mana mimpiku semakin ‘gila’, kebanyakan orang menghabiskan waktu 17 jam untuk belajar. 17 jam. Kau bisa bayangkan itu, kawan! Sekarang kita bermain matematika sederhana. Satu hari kita punya 24 jam yang 17 jam telah kita gunakan untuk belajar, 2 sampai 3 jam kita gunakan untuk mandi, sholat, makan, dan lainnya, tersisa sekitar 4 jam. Itulah waktu tidur kita. Aku sendiri pun menikmatinya. Tak pernah protes waktu tidur yang hanya 4 – 5 jam sehari. Bahkan tidur 2 jam pun sering ku alami. Lagi, istilah “waktu adalah uang” tak berhasil merasuki kalbuku.

 

Sampai suatu ketika, aku mendapatkan kesibukan yang telah lama kunanti. Jadwal yang sengaja ku padatkan agar tak hanya “memikirkan yang tak perlu dipikirkan” (bengong maksudnya, biar tulisannya panjang. #plak. Hahaha...). Satu detik sangat amat sayang sekali banget (kurang lebay apa coba..??? #plak) bila terlewatkan. Jadwal belajar di kampus pagi hari, siang mengutak-atik file-file di perpustakaan mini, berlanjut belajar dengan anak-anak yang luar biasa yang terkadang sampai jam sembilan malam lebih. (akhirnya motoran ngebut takut kosan sudah dikunci, kalau nasibnya lagi kurang beruntung alias kosan sudah dikunci, tempat tinggal seorang teman siap-siaplah menjadi sasaran. Btw, terima kasih ya yang sering ku repotin buat nginap, katamu kan tamu adalah raja. Hahaha...V). Tak berakhir di jam sembilan kawan, aku juga harus menyiapkan materi untuk si bocah-bocah luar biasa itu. Satu hal yang selalu ku syukuri bahwa aku tak melupakan kewajibanku sebagai pelajar. Aku menyadari konsekuensi aku memilih menghabiskan waktu tiga per empat dalam sehariku untuk itu semua. Aku masih ingat tugas-tugasku. Tugas-tugas yang akan menumpuk bila tak mencoba menyelesaikannya perlahan. Tugas yang aku yakin bisa menyelesaikannya bila ada ‘alat’ yang mendukung. (Thanks a truck buat ‘alat’nya yang sering ku ‘sita’ dan itu tidak hanya sekali namun berkali-kali J).

 

Perlahan aku merasakan I’m as busy as a bee. Perlahan pula ku merasakan “time is money”. Itulah sebabnya aku ingin marah tapi tak punya hak untuk memarahi mereka yang menggombal meminta extension kepada dosen. Mengapa mereka tak menyelesaikan di hari yang telah ditentukan? Sesibuk apakah mereka? Mungkin aku terlalu egois bila hanya membandingkan semuanya dengankku. Bukankah Tuhan menciptakan kita dalam keadaan yang berbeda-beda? Lagipula aku tak mau bersuudzon kepada mereka. Mungkin saja mereka lebih sibuk dariku. Mungkin! Tapi maaf aku belum menemukan bukti dari kesemuanya, hanya beberapa. Ambil saja contoh satu-satunya orang yang mendapat panggilan ‘kakak’ dariku di kelas, dia yang harus berusaha mendapatkan biaya untuk studinya, atau orang yang sering duduk bersebelahan denganku saat awal-awal masuk kuliah, mereka yang menikmati pekerjaannya untuk mengisi waktu luang, dan mereka yang waktunya telah sakral untuk belajar di kampus dan melakukan aktivitas diluar itu, toh kewajibannya terselesaikan tepat waktu.

 

Bagiku, zona mereka terlalu aman. Tak mau sedikit saja mencoba mengintip dan perlahan keluar dari guanya. Hanya ingin dan ingin menjadi terbaik tanpa mencoba melakukan yang terbaik. Kita sama dalam artian kita ingin menjemput mimpi-mimpi kita, yang membedakan hanya aku berani melangkahkan kakiku di atas jalanan terjal bukan jalanan ‘beraspal’. Sebenarnya aku tak punya hak untuk memperpanjang-lebarkan semua ini. Aku yakin berbagai pujian bahkan cacian akan menghantamku. Atau pun tiba-tiba membenciku dan menjadikanku top of the heated person, it’s fine! I don’t care at all. Aku hanya tidak rela seorang teman yang sering berbagi, tertawa, dan belajar dalam satu atap denganku, menemukan jalan yang buntu.  Aku ingin menggenggam puncak itu bersama kalian karena aku menyayangi kalian, dan tanpa kalian semua tak akan menjadi sejarah.

 

Yogyakarta, January 20, 2012


07.28 a.m




Alpha Ey Sirius Syam