Pandanganku teralih kepada gadis yang dibonceng Dylan. Gadis serba hijau yang sedari tadi hampir tak ku dengar celotehannya. Gadis yang selalu nimbrung dan mau berteman dengan kelima orang ‘bego’. Dialah yang sempat ‘menguntit’ceritaku. Dia yang sempat menjadi sasaran ‘pengklarifikasian’ dari apa yang terjadi.
Sore itu ku mampir ke kamarnya, kamar yang entah berapa kali telah dia ubah designnya. ‘......lulus dengan nilai bagus, dapat kerja.......’ Aku tersenyum membaca tulisan di atas kertas warna merah yang tertempel di jendela kamarnya. Yang menjadi perhatian utamaku, NILAI!
“Kamu tahu nggak satu hal yag membuat kamu tak pernah mendapatkan nilai sebagus yang kau inginkan?” Tanyakku pada Triana saat mata kuliah –yang katanya academic- berlangsung (seperti biasa disuruh si dosen diskusi materi tapi yang ada malah ngobrol), setelah beberapa kali dia memintaku untuk belajar bersama dan mengeluh tak bisa membayangkan seperti apakah IP pertamanya nanti. Dia merasa tak akan seperti yang dia inginkan, cum laude!
“Enggak, Ey. Emang apaan?” dengan wajah kusut (emangnya baju yang nggak disetrika!) dan balik bertanya.
“Jawabannya karena kau mengejar nilai itu”, Jawabku sembari tersenyum.
Kali ini dia mengusap-usap wajahnya bah berwudhu membasuh muka, “Maksudnya, Ey? Nggak ngerti.”
“Apa aja boleh”, ngasal. Mencoba mencairkan suasana.
“Hassshhhhh....” desahnya kesal.
“Hahahaha....”, tawaku.
“Ya, elo-nya. Gue lagi serius, lo bercanda mulu,” keluhnya jengkel.
“Santai ajalah, Tri”, pintaku. “Dilanjutin nggak ni?”
“Ya iyalah.”
“Gini, lo pingin dapat cum laude kan?”
Triana hanya menjawabnya dengan anggukan.
“Gue nggak munafik, gue juga pingin bisa cum laude. Semua yang ada di kelas ini pun pasti ingin cum laude.”
“Trus?”
“Biar cum laude nilai IP kita harus berapa?”
“Minimal 3.8 atau 3.7 ya? Lupa gue” jawab Tria mencoba mengingat-ingat.
“Ya udah, 3.7, 3.8 atau berapa pun, gue nggak perduli. Di situlah perbedaan kita, Tri.”
“Maksudnya gimana, Ey? Gue makin nggak ngerti.”
“Oke, sekarang gue tanya ke elo. Gimana biar kita bisa dapat tu nilai?”’
“Ya dari tugas kita lah, kita kan nggak ada ujian.”
“Jadi lo ngerjain tugas biar dapat nilai, gitu?”
“Ya buat apa lagi kalau nggak buat dapat nilai?”
“Trus lo pasang target berapa nilai yang harus lo dapat?”
“He’em, kalau nggak gitu gue ngerjain tugas ngasal”.
Aku tersenyum.
“Triana, gue pernah mengalami masa di mana aku berada di atas bahkan di bawah. Gue yakin lo juga gitu. Gue pernah ingin dapat nilai 97 di mata pelajaran ‘Y’. Gue cerita ke gurunya. Tahu nggak apa yang guru itu bilang?’
“Apa?”
“Beliau bilang gue nggak akan pernah dapetin nilai itu”.
“Kok bisa? Wah gurumu membunuh karakter tu, Ey.’
“Awalnya gue juga mikir seperti itu, tapi beliau bilang jangan pernah menarget nilai! Lo tau nggak nilai tes pertama gue di mata pelajaran ‘Y’, 40, Tri. Lo bisa bayangin nggak perasaan gue dapat nilai yang seumur-umur belum pernah gue dapat. Shocked. Namun, mulai saat itu gue mulai memikirkan kata-kata guru gue.
“Gue ubah mind set gue, jujur gue pingin dapetin nilai itu, tapi dengan sekuat hati gue hapus nilai itu dalam memori gue.”
“Caranya, Ey?”
“Oke, gue tadi bilang kalau gue juga pingin cum laude kan?”
“He’em”, Sahut Tria pendek, serius mendengarkan ceritaku yang panjangnya melebihi daratan Indonesia.
“Untuk dapat itu kita harus memenuhi beberapa syarat kan?”
“Iya”, masih singkat jawaban temanku yang satu ini.
“Kita ambil contoh gampangnya nilai A. Untuk dapat nilai A kita harus memenuhi beberapa syarat. Misalnya lo harus bisa menulis, membaca, harus komunikatif atau yang lainnya. Yang harus lo kejar adalah gimana caranya lo bisa menulis, membaca, komunikatif atau apalah. Proses, Tri. Dari belum bisa menjadi bisa.
“Jangan ibaratkan nilai itu sebuah titik tengah lingkaran yang menjadi target utama kita. Untuk mencapai titik itu, bukankah kita harus membentuk simetris-simetris yang harus kita penuhi? Simetris-simetris yang menjadi jembatan kita yang akan mengantarkan kita ke titik itu dengan sendirinya.
“Jadi Tri, proses itulah yang harus kita perjuangkan, orang mendapat nilai A dengan memeras keringat lebih bersejarah daripada mereka yang mendapatkannya dengan mudah, mereka tidak punya cerita. Penuhilah syarat-syarat itu, itulah proses. Bukan menggenggam puncak tanpa rasa letihnya kaki.”
“Oh... Mungkin karena itu, Ey. Selama ini gue selalu target nilai, ngejar nilai bagus.”
“Santai aja, masih ada waktu, ingat semua itu proses! Jangan instant mulu!”
“Emang ****mie, instant!”
“Ya mungkin aja. Oy, satu hal lagi yang penting.”
“Apa?”
“IKHLAS. Kerjain semuanya dengan ikhlas, nikmatilah proses itu, jangan anggap sebagai beban.”
“Attention please! Have you finished your discussion?” Tiba-tiba sang Bapak dosen mengalihkan perhatian kita.
“Ok, please make it be individual assignment and send it to e-Learning”, Lanjut si Dosen.
“Tu Ey, ‘tugas pertama’ gue, lo juga yang ikhlas!”
“Gue dari dulu mah ikhlas!”
“Maksud gue, ikhlas sekalian kerjain tugas gue!’
“Sial! Enak aja lo”
“Hahahha....” tawa kita menyatu.
Tersenyum, senang. Seolah ada sesuatu yang terlepas. Lega. Terima kasih, Tuhan. Kawan, kita mendapatkan gelar bukanlah karena nilai kita, tapi karena kita pantas mendapatkan gelar itu. Sejauh mana kita mencoba memantaskan diri kita, proseslah yang menjawab, bukan akhir! (-Alpha Ey Sirius Syam-)
Inspired by: Dani Ratrianasari.
Dedicated my ‘bego’ friends: especially, Dani Ratrianasari, Muhammad Haqqi Riansyah, Rudyanto, Fidiyah Retno Wulandari, Qori Septi Melrosi.
Yogyakarta, January 18, 2012
02.13 a.m.
Alpha Ey Sirius Syam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar