My inspiring song.
Dreaming - Kim Soo Hyun
I was looking at my dream that is being deemed far away
And I was standing blankly
I don’t have anything left any more
I thought about giving up everything, but
I am standing up again
Even today step by step
I step forward carefully
My heart is full of fears
but it’s an excitement I’m embracing
I am staggering and shaking
But, I step forward towards
the dream that I am going to meet some day
As I’m thinking if it’s going to end like this
A fear constantly comes
I’m hesitating but
Deep inside my heart
There’s an unstoppable beating
that drags me forward
Even today step by step
I step forward carefully
My heart is full of fears
but it’s an excitement I’m embracing
I am staggering and shaking
But, I step forward towards
the dream that I am going to meet some day
Even today step by step
I step forward carefully
My heart is full of fears
but it’s an excitement I’m embracing
I am staggering and shaking
But, I step forward towards
the dream that I am going to meet some day
Towards the dream that I am going to meet some day
[lyrics of Dreaming - Kim Soo Hyun, Ost. Dream high]
______________________________________
I was.........
I was the only one who was in black hole
trapped in the dark
Didn't care what flied around me
No one came like a hero trying to make me feel ease
I tried so hard to stand
to erase all the pain
to smile outside
Life was just like shadow
which would lose when the sun shone
and appear when the night came up
All things changed in a glace
Shattered....
Gurgling of the water flowing whispered me
The one and only
Touched me, my heart exactly
Woke me up from the long hopelessness
Yogyakarta, December 23, 2011
2.13 pm
Jumat, 23 Desember 2011
Selasa, 20 Desember 2011
Untukmu, Seorang Kawan
Kawan,
Apakah sebutan lebih kecil dari detik?
Itulah waktu kita
Bah c dalam si rumus Einstein
Kawan,
Pikiranku tergerogoti rasa
Rasa-rasa yang ku tak tahu
Kawan,
Berhentilah berkata "jika tidak"
Hanya mencoba melangkah
Dan berlarilah sekencang kau butuh mengayunkan tangan dan kaki 'tuk menjangkau "itu"
Kawan,
Dunia bukanlah sekedar atom yang berputar
Tuhan mengizinkan kita untuk mengurai dan menebarkan apa yang kita inginkan dititipannya
Dan mengapa kita hanya diam, terperangkap dalam zona hitam?
Kawan,
Di titik mana pun kau menghentakkan kaki
Aku percaya kau kan mendendangkan nyanyian indah
Lagu kemenangan....
Perjuangan Penapakan Kaki...
Sejarah Langkah....
Yogyakarta, December 19, 2011
3.24 pm
Terusik
Seolah semua berujung
Tak kudapati alur yang bersambungan
Putus-putus
Ku bernynyi dalam luka
Memalsukan performa riil
Topeng kita terusik dan menipis
Gesekan-gesekan mejadi penyebab tangis
Tergesek seperti senar biola tapi tak indah
Semakin lekoh si merdu tergesek
Semakin dalam palung yang terorek
Kau, mereka
Tak pernah tahu kita meronta
Ceplosan-ceplosan lisan, yang hanya kau dan mereka lihat, berdansa
Kita terlalu pandai
Palung nan dalam kita biaskan bah samudera yang terbentang megah
Perfect
Terlalu perfect malah
Suatu masa
Kau kan melihat kita melalang buana
Tapi kita kan mencoba kau tak kan pernah menyaksikan kelalang buanaan kita
Yogyakarta, December 07, 2011
8.24 pm
Tak kudapati alur yang bersambungan
Putus-putus
Ku bernynyi dalam luka
Memalsukan performa riil
Topeng kita terusik dan menipis
Gesekan-gesekan mejadi penyebab tangis
Tergesek seperti senar biola tapi tak indah
Semakin lekoh si merdu tergesek
Semakin dalam palung yang terorek
Kau, mereka
Tak pernah tahu kita meronta
Ceplosan-ceplosan lisan, yang hanya kau dan mereka lihat, berdansa
Kita terlalu pandai
Palung nan dalam kita biaskan bah samudera yang terbentang megah
Perfect
Terlalu perfect malah
Suatu masa
Kau kan melihat kita melalang buana
Tapi kita kan mencoba kau tak kan pernah menyaksikan kelalang buanaan kita
Yogyakarta, December 07, 2011
8.24 pm
Senin, 12 Desember 2011
Sebuah Kata
Tercekat
Ku tak tahu di mana abjad pertama berada
Rumit
Bah angka-angka dalam deretan sejuta rumus
Pikiranku terajam
Seolah semua hanyalah ilusi
Mencabik-cabik
Memangkas meranggasnya jiwa
Enyah sajalah
Tapi, ku mohon,
Dengarlah...
Walau hanya pura-pura...
#Ineedtotalk
Yogyakarta, December 2011
4.01 pm
Ku tak tahu di mana abjad pertama berada
Rumit
Bah angka-angka dalam deretan sejuta rumus
Pikiranku terajam
Seolah semua hanyalah ilusi
Mencabik-cabik
Memangkas meranggasnya jiwa
Enyah sajalah
Tapi, ku mohon,
Dengarlah...
Walau hanya pura-pura...
#Ineedtotalk
Yogyakarta, December 2011
4.01 pm
Selasa, 29 November 2011
It's Alive
Kita sama-sama tak pernah menginginkan berada di tempat ini. Jangankan membayangkan, untuk berniat membayangkan saja, tak pernah ada di benak kita. Mimpi yang tak sejalan dengan peta alphabet masa yang kita inginkan, melabuhkan kita di tembolok ini. Dan… Siang ini Tuhan mengirim jawaban mengapa aku harus mengarungi hari seperti ini, di tempat yang tak pernah kutorehkan dengan tinta mimpiku. Yeah, Tuhan menunjukkan kasih sayang-Nya kepada kita dengan cara yang terkadang tak kita mengerti.
Berawal dari sebuah komik, “kebegoan-kebegoan” kita dipertemukan. Di tempat yang tak seorang pun ku kenal, ku lalui hari “peperangan” pertamaku. Berniat tak memedulikan siapa pun dan apa pun. Saat itu ku hanya tertarik dengan komik yang dibawanya, Detective Conan 63. Setelah membacanya, tinggal ku kembalikan, dan hubunganku dengannya END. Tak ingin mengenal lebih jauh. Siapa dia, asalnya dari mana, dan apa latar belakangnya, masa bodoh. Hari pertama masuk kuliah, ku kembalikan komik, seperti rencana semula, ku tak ingin mengundang siapa pun ke dalam hari-hariku. Semua itu hanya akan membuat apa yang kurasakan semakin menyakitkan. Yeah, itulah anggapanku yang ketika aku tak mau mendengarkan siapa pun dan aku yang berusaha menahan kesakitan yang entah kapan akan tertebus.
Adalah waktu yang perlahan menuntunku. Duduk di kelas yang terlalu sering bersebelahan, ide-ide yang tanpa sengaja equal seolah dendrite dan akson kita menyatu, pendapat-pendapat yang membuat kita harus sedikit memaksa syaraf-syaraf di otak kita bekerja lebih keras, semua itu bah penyatu kita, penyatu tanpa kita harus mengikrarkan “sebuah janji pertemanan” yang sering digembor-gemborkan. Kita hanya mengikuti tapak langkah yang digariskan Tuhan. Di detik itulah ku merasa Tuhan tak pernah membiarkan aku sendirian.
Pelangi mulai muncul dari persembunyian tidurnya. Ku mulai mengatakan “the pain still lingers in my heart”. (Kata-kata yang sekarang malah jadi bahan untuk menertawakan “kebegoaan” kita. Hahaha……) Dan, saat itu juga aku mengetahui bahwa keadaan kita tak berbeda. Yang membedakan hanya, dia telah merobek semua imajinasi masanya sedangkan aku menyimpannya rapat-rapat dalam amplop, tak pernah ku buka.
Angin membisikiku bahwa bukanlah saatnya aku harus hidup dalam bayang-bayang mimpi dan kesakitan. Saatnya aku kembali menjadi diriku atau bahkan lebih baik. Kini ku mulai menikmati jalannya detik ke menit, ke jam, ke hari bahkan ke bulan. Menjalani “kebegoan-kebegoan” denganya, menyusun rencana dari ide-ide “gila” kita, menjahili setiap teman-teman baik seangkatan atau senior, bahkan dosen pun tanpa terkecuali, bersikap “nakal” yang bagi kita “nakal kita punya arah, aturan, dan batasan” (nakal ko….??? Hahaha…), menikmati udara jalanan sampai hampir tengah malam (teman-teman yang nggak terbiasa sampai tugasnya terbengkalai, hahaha,,, – jalan-jalan dan nakal boleh asal tugas selesai tepat waktu (prinsip kita) hahaha… –). Dan satu hal yang sama yang masih tertanam dalam 5 cm kita, kita akan tetap mencoba menyusun kepingan-kepingan yang berserakan dalam ketidakpastian. Karena memang satu-satunya hal yang tidak pasti di dunia ini hanyalah ketidakpastian itu sendiri (Albert Einstein). Kiita percaya bahwa it’s good to have a big dream. Even if our dream is shattered, the shattered pieces are still big. Dan, Tuhan pun membiarkan aku menyelam ke palung agar aku bisa belajar lebih banyak serta menikmati perputaran roda, daripada mereka yang telah terbang di atas awan selangkah lebih awal daripadaku.
#tatapansianglayardreamhighbersamasicoolkiddylan
Berawal dari sebuah komik, “kebegoan-kebegoan” kita dipertemukan. Di tempat yang tak seorang pun ku kenal, ku lalui hari “peperangan” pertamaku. Berniat tak memedulikan siapa pun dan apa pun. Saat itu ku hanya tertarik dengan komik yang dibawanya, Detective Conan 63. Setelah membacanya, tinggal ku kembalikan, dan hubunganku dengannya END. Tak ingin mengenal lebih jauh. Siapa dia, asalnya dari mana, dan apa latar belakangnya, masa bodoh. Hari pertama masuk kuliah, ku kembalikan komik, seperti rencana semula, ku tak ingin mengundang siapa pun ke dalam hari-hariku. Semua itu hanya akan membuat apa yang kurasakan semakin menyakitkan. Yeah, itulah anggapanku yang ketika aku tak mau mendengarkan siapa pun dan aku yang berusaha menahan kesakitan yang entah kapan akan tertebus.
Adalah waktu yang perlahan menuntunku. Duduk di kelas yang terlalu sering bersebelahan, ide-ide yang tanpa sengaja equal seolah dendrite dan akson kita menyatu, pendapat-pendapat yang membuat kita harus sedikit memaksa syaraf-syaraf di otak kita bekerja lebih keras, semua itu bah penyatu kita, penyatu tanpa kita harus mengikrarkan “sebuah janji pertemanan” yang sering digembor-gemborkan. Kita hanya mengikuti tapak langkah yang digariskan Tuhan. Di detik itulah ku merasa Tuhan tak pernah membiarkan aku sendirian.
Pelangi mulai muncul dari persembunyian tidurnya. Ku mulai mengatakan “the pain still lingers in my heart”. (Kata-kata yang sekarang malah jadi bahan untuk menertawakan “kebegoaan” kita. Hahaha……) Dan, saat itu juga aku mengetahui bahwa keadaan kita tak berbeda. Yang membedakan hanya, dia telah merobek semua imajinasi masanya sedangkan aku menyimpannya rapat-rapat dalam amplop, tak pernah ku buka.
Angin membisikiku bahwa bukanlah saatnya aku harus hidup dalam bayang-bayang mimpi dan kesakitan. Saatnya aku kembali menjadi diriku atau bahkan lebih baik. Kini ku mulai menikmati jalannya detik ke menit, ke jam, ke hari bahkan ke bulan. Menjalani “kebegoan-kebegoan” denganya, menyusun rencana dari ide-ide “gila” kita, menjahili setiap teman-teman baik seangkatan atau senior, bahkan dosen pun tanpa terkecuali, bersikap “nakal” yang bagi kita “nakal kita punya arah, aturan, dan batasan” (nakal ko….??? Hahaha…), menikmati udara jalanan sampai hampir tengah malam (teman-teman yang nggak terbiasa sampai tugasnya terbengkalai, hahaha,,, – jalan-jalan dan nakal boleh asal tugas selesai tepat waktu (prinsip kita) hahaha… –). Dan satu hal yang sama yang masih tertanam dalam 5 cm kita, kita akan tetap mencoba menyusun kepingan-kepingan yang berserakan dalam ketidakpastian. Karena memang satu-satunya hal yang tidak pasti di dunia ini hanyalah ketidakpastian itu sendiri (Albert Einstein). Kiita percaya bahwa it’s good to have a big dream. Even if our dream is shattered, the shattered pieces are still big. Dan, Tuhan pun membiarkan aku menyelam ke palung agar aku bisa belajar lebih banyak serta menikmati perputaran roda, daripada mereka yang telah terbang di atas awan selangkah lebih awal daripadaku.
Yogyakarta, 29 November 2011
4.07 pm
Nurul Hunafa
#tatapansianglayardreamhighbersamasicoolkiddylan
Jumat, 25 November 2011
Masa Tersembunyi Bersama Ar-Rahman
Tuhan...
Dalam padam ku masih melihat terang-Mu
Langkahku tercekat
Buih lautan menampar-nampar
Menyingsing balutan kepedihan
Tuhan...
Sebelum ku menyatu abadi dengan tanah leluhurku
Sudikahkah Engkau mengizinkan jajaran kata yang terukir, yang setiap detik mendaki menit bahkan jam, ku resapi dan ku tanam dalam jiwa serta pikiran luar biasa, yang tlah Kau suguhkan, menjadi jubah nyata yang menyelimuti masaku.
Tuhan...
Ku tlah merasakan kekuatan-Mu menyatu saat ku menorehkan setiap alfabet
Dan......
Sungguh seluruh ragaku meminta, memohon, sang alfabet kan berdansa
Tuhan....
Tak ada nikmat-Mu yang bisa ku dustakan lagi
Semua telah nyata
Bahkan...
Pengelihatanku tak mau terpejam memandang apalagii memincing
Pendengaranku tak mau tertutup, bahkan menajam
Bibir serta hati tak mau berpaling menyebut yang lain
Ar-Rahman-Mu yang berhasil menekuk lutut
Ar-Rahman-Mu yang menderaikan
Ar-Rahman-Mu yang tak bertanding sebab tak ada yang mampu menandingi
Ar-Rahman-Mu seolah memelukku begitu erat
Ar-Rahman-Mu yang ...........
Peluh lidahku tak mampu mengungkapkan...
Yang tersisa sekarang hanya...
Terima kasih, Tuhan.....
#terinspirasidarikisahbersamaAr-Rahman-Mu.
Yogyakarta, November 25, 2011
4.12 pm
Kamis, 17 November 2011
Pikiran yang Terpenjarah
Kata-kata itu memenjarah pikiranku
Tentang daun yang tak lagi hijau
Tentang sepi yang terus merengkuh senyuman
Terik mentari tak seperti yang tlah lalu
Semakin menggelapkan
Meruntuhkan dermaga yang terarungi
Menggubahnya tak semudah benang memasuki jarum
Pendengaran dan penglihatan yang acuh
Berbelok dengan perasaan
Pikiran yang menyambung tak kunjung bertemu
Jika Tuhan membisikkan masa depan
Tak kan pernah ada batu kecil yang tertendang ke jurang
Semua kan tiada rasa
Hampa
Detik terus berlari
Dan harus mengejar
Diam bukanlah dukungan akal
Tentang daun yang tak lagi hijau
Tentang sepi yang terus merengkuh senyuman
Terik mentari tak seperti yang tlah lalu
Semakin menggelapkan
Meruntuhkan dermaga yang terarungi
Menggubahnya tak semudah benang memasuki jarum
Pendengaran dan penglihatan yang acuh
Berbelok dengan perasaan
Pikiran yang menyambung tak kunjung bertemu
Jika Tuhan membisikkan masa depan
Tak kan pernah ada batu kecil yang tertendang ke jurang
Semua kan tiada rasa
Hampa
Detik terus berlari
Dan harus mengejar
Diam bukanlah dukungan akal
Yogyakarta, November 17, 2011
4.49 pm
Senin, 07 November 2011
Idul Adha Berbaur Gerimis Fajar
Pagi, sekitar pukul 03.50, tak hanya merdunya adzan subuh membisik di telinga, gerimis yang semakin menderas pun ikut berbaur. Ku buka almari dan ku ambil baju krem -satu-satunya baju yang menurutku layak untuk sholat id nanti -. Sejuta memori kampung halaman menyelinap.
Setiap hari raya, pukul 03.00 adalah waktu yang biasa di keluargaku untuk membuka mata dan mempersiapkan segalanya. Kini, di ruang 3x3 meter aku melakukan semua itu sendiri. Bukan jam 03.00. Tapi subuh. Ku seterika baju dan mukenah. Kembali teringat suasana gubuk sederhana yang jaraknya beratus-ratus kilometer dari tempatku berpijak. Sehari sebelum hari raya, dan sudah menjadi kebiasaan, aku berubah menjadi juru setrika. Ku minta semua pakaian keluargaku, bunda, ayahanda, kakak-kakak, serta adik-adikku, menyeterikat yang terkadang tak selesai dalam semalam hingga aku harus bangun jam 3 pagi untuk melanjutkannya.
Pekerjaanku tak seberapa, bunda-lah yang keringatnya seolah harus bercucuran terus menerus.
Bunda. Ah, sosok beliau tak pernah tergantikan. Sampai kapan pun! Bunda, yang tidur bada isya guna mengumpulkan tenaga setelah seharian mengurusi rumah, saat terbangun sekitar pukul 11 malam, langsung sibuk dengan urusan dapur. Terkadang ku sudahi seterikaanku -padahal belum selesai- hanya untuk melihat bunda membuat opor ayam - yang telah ku request untuk makan setelah sholat id nanti - dan soto kesukaan adik-adikku. Pernah ku meminta bunda melakukan itu semua pada jam 3 pagi, bukan di malam hari seperti itu, jawaban bunda sederhana 'kalau ndak disiapkan sekarang, besok pagi sudah ribet ngurusicenceremen, nduk.' -cenceremen, sebutan untuk adik-adikku yang begitu aktif. Sejak itu, aku tak pernah mengganggu bunda di tidur bada isya beliau. Kalau pun ada orang yang datang dan meminta untuk membangunkan beliau, ku hanya bilang 'datanglah lagi esok.' Tak pernah ku membangunkan tidur bunda. Waktu tidur bunda seolah menjaga permata yang menjadi incaran pencuri internasional. Aku bukan berlebihan, kawan, tapi memang itulah kenyataannya.
Oh Bunda, anakmu yang selalu membuatmu gelisah, rindu!
Gema takbir bersahutan memecah gemuruh gerimis fajar. Sembari tetap menari-narikan seterika di atas mukenah, aku pun menyahut. Ku bayangkan sosok Ayahanda yang memimpin kita melantunkan takbir setelah menjadi Imam sholat maghrib. Ya, meski hanya beberapa menit, ku merasakan indahnya lafadz-lafadz takbir yang terlantun.
Allahu akbar...
Takbiratul ihram terucap dari bibir imam di masjid, tempat aku menunaikan sholat id. Hatiku damai. Sayang, Bunda tak sholat di sampingku.
Aku selalu ingin berada tepat di samping Bunda ketika sholat agar tak didahului orang lain 'tuk menjabat dan mencium tangannya yang suci. Di sini, hanya melalui angin ku sampaikan salam cinta untuknya. Bunda, terimalah maaf dari anakmu yang selalu takberdaya melihat tangismu, namun selalu merepotkanmu.
Seusai sholat, bersama adik laki-lakiku, Jabbar, Ayahanda telah menunggu Bunda, adik-adikku, dan aku di luar masjid 'tuk pulang bersama. Dan inilah saat -yang kebanyakan tetanggaku berkata bahwa andai keluarga mereka seperti keluargaku- yang aku sukai. Menikmati opor ala Bunda. Bersama-sama di ruang tamu atau tengah yang telah bergabung menjadi satu. Lesehan. Ya lesehan. Di rumah tak ada kursi. Semua serba lesehan. Namun itulah yang menjadikan kita melingkar, menautkan kebersamaan setiap menikmati hidangan Bunda.
Pernah suatu hari raya, Ayahanda dipersilahkan menikmati hidangan di rumah salah seorang ta'mir masjid bersama teman-teman Ayahanda lainnya. Sebut saja namanyat Pak Haji. Pak Haji menggandeng Ayahanda di saat menunggu kami di pintu masjid. Selezat apa pun hidangan Bunda, akan terasa yang mengganjal jika salah satu dari kita tak menikmati di rumah serba lesehan ini. Namun ketika Ayahanda menolak ajakan Pak Haji dengan halus, hatiku melompat kegirangan. Oh Ayahanda, aku rindu.
Hidangan yang disulap menjadi istimewa oleh bunda kita nikmati dengan cara yang menurut kebanyakan orang adalah suatu hal yang aneh. Opor ayam kita beri sentuhan kecap manis yang melumer di atas piring kami dan hal unik lainnya, perebutan kepala ayam. Ya, kepala ayam. Hari raya dikeluargaku bukanlah waktu untuk berebut daging ayam, melainkan kepala ayam. Mataku dan mata adik-adikku hanya akan berubah hijau ketika melihat daging ayam di kentucky dan itu pun bukan waktu hari raya. Oh, adik-adikku, aku rindu!
Adalah kali keduanya ku tak merayakan hari raya di 'kampuang nan jauh di mato'. Melantunkan takbir kemenangan bersama gerimis fajar. Bersama angin, burung-burung, dan alam yang meneruskan lafadz indah-Mu ketika ku bersimpuh dan bersujud kepada-Mu, Ya Rabb...
Selamat Hari Raya Idul Adha
Yogyakarta, 06 November 2011 / 10 Dzulhijjah.
11.52 a.m
Setiap hari raya, pukul 03.00 adalah waktu yang biasa di keluargaku untuk membuka mata dan mempersiapkan segalanya. Kini, di ruang 3x3 meter aku melakukan semua itu sendiri. Bukan jam 03.00. Tapi subuh. Ku seterika baju dan mukenah. Kembali teringat suasana gubuk sederhana yang jaraknya beratus-ratus kilometer dari tempatku berpijak. Sehari sebelum hari raya, dan sudah menjadi kebiasaan, aku berubah menjadi juru setrika. Ku minta semua pakaian keluargaku, bunda, ayahanda, kakak-kakak, serta adik-adikku, menyeterikat yang terkadang tak selesai dalam semalam hingga aku harus bangun jam 3 pagi untuk melanjutkannya.
Pekerjaanku tak seberapa, bunda-lah yang keringatnya seolah harus bercucuran terus menerus.
Bunda. Ah, sosok beliau tak pernah tergantikan. Sampai kapan pun! Bunda, yang tidur bada isya guna mengumpulkan tenaga setelah seharian mengurusi rumah, saat terbangun sekitar pukul 11 malam, langsung sibuk dengan urusan dapur. Terkadang ku sudahi seterikaanku -padahal belum selesai- hanya untuk melihat bunda membuat opor ayam - yang telah ku request untuk makan setelah sholat id nanti - dan soto kesukaan adik-adikku. Pernah ku meminta bunda melakukan itu semua pada jam 3 pagi, bukan di malam hari seperti itu, jawaban bunda sederhana 'kalau ndak disiapkan sekarang, besok pagi sudah ribet ngurusicenceremen, nduk.' -cenceremen, sebutan untuk adik-adikku yang begitu aktif. Sejak itu, aku tak pernah mengganggu bunda di tidur bada isya beliau. Kalau pun ada orang yang datang dan meminta untuk membangunkan beliau, ku hanya bilang 'datanglah lagi esok.' Tak pernah ku membangunkan tidur bunda. Waktu tidur bunda seolah menjaga permata yang menjadi incaran pencuri internasional. Aku bukan berlebihan, kawan, tapi memang itulah kenyataannya.
Oh Bunda, anakmu yang selalu membuatmu gelisah, rindu!
Gema takbir bersahutan memecah gemuruh gerimis fajar. Sembari tetap menari-narikan seterika di atas mukenah, aku pun menyahut. Ku bayangkan sosok Ayahanda yang memimpin kita melantunkan takbir setelah menjadi Imam sholat maghrib. Ya, meski hanya beberapa menit, ku merasakan indahnya lafadz-lafadz takbir yang terlantun.
Allahu akbar...
Takbiratul ihram terucap dari bibir imam di masjid, tempat aku menunaikan sholat id. Hatiku damai. Sayang, Bunda tak sholat di sampingku.
Aku selalu ingin berada tepat di samping Bunda ketika sholat agar tak didahului orang lain 'tuk menjabat dan mencium tangannya yang suci. Di sini, hanya melalui angin ku sampaikan salam cinta untuknya. Bunda, terimalah maaf dari anakmu yang selalu takberdaya melihat tangismu, namun selalu merepotkanmu.
Seusai sholat, bersama adik laki-lakiku, Jabbar, Ayahanda telah menunggu Bunda, adik-adikku, dan aku di luar masjid 'tuk pulang bersama. Dan inilah saat -yang kebanyakan tetanggaku berkata bahwa andai keluarga mereka seperti keluargaku- yang aku sukai. Menikmati opor ala Bunda. Bersama-sama di ruang tamu atau tengah yang telah bergabung menjadi satu. Lesehan. Ya lesehan. Di rumah tak ada kursi. Semua serba lesehan. Namun itulah yang menjadikan kita melingkar, menautkan kebersamaan setiap menikmati hidangan Bunda.
Pernah suatu hari raya, Ayahanda dipersilahkan menikmati hidangan di rumah salah seorang ta'mir masjid bersama teman-teman Ayahanda lainnya. Sebut saja namanyat Pak Haji. Pak Haji menggandeng Ayahanda di saat menunggu kami di pintu masjid. Selezat apa pun hidangan Bunda, akan terasa yang mengganjal jika salah satu dari kita tak menikmati di rumah serba lesehan ini. Namun ketika Ayahanda menolak ajakan Pak Haji dengan halus, hatiku melompat kegirangan. Oh Ayahanda, aku rindu.
Hidangan yang disulap menjadi istimewa oleh bunda kita nikmati dengan cara yang menurut kebanyakan orang adalah suatu hal yang aneh. Opor ayam kita beri sentuhan kecap manis yang melumer di atas piring kami dan hal unik lainnya, perebutan kepala ayam. Ya, kepala ayam. Hari raya dikeluargaku bukanlah waktu untuk berebut daging ayam, melainkan kepala ayam. Mataku dan mata adik-adikku hanya akan berubah hijau ketika melihat daging ayam di kentucky dan itu pun bukan waktu hari raya. Oh, adik-adikku, aku rindu!
Adalah kali keduanya ku tak merayakan hari raya di 'kampuang nan jauh di mato'. Melantunkan takbir kemenangan bersama gerimis fajar. Bersama angin, burung-burung, dan alam yang meneruskan lafadz indah-Mu ketika ku bersimpuh dan bersujud kepada-Mu, Ya Rabb...
Selamat Hari Raya Idul Adha
Yogyakarta, 06 November 2011 / 10 Dzulhijjah.
11.52 a.m
Jumat, 04 November 2011
My Best Friend and I
Everyone is created by God with different things likewise my best friend and I. The most difference between my best friend, named Ima, and I is our characteristic. Ima has characteristic which usually the woman has whereas many of my friends said that I have characteristic which the man has than the woman has. For instance, she is feminine or likes something girly than I can’t be like what she is and does. In addition, talking about girly, Ima prefers to wear long and cute dress; on the contrary, I prefer to wear pants and simple t-shirt or casual clothes. The other difference is that Ima is animal lovers especially a cat; on the other hand, sometimes I don’t give an attention to it though it’s just small attention because I dislike to care an animal in my home. We are very different, but those differences instead make us be complementing each other and be best friend.
#Compare and Contrast Paragraph
#Compare and Contrast Paragraph
Yogyakarta, October 25, 2011
Nurul Hunafa
How To Be A Successful Student
| T |
o be a successful student is the dream of everyone; furthermore, there are three requirements which have to be filled in order to be a successful student. The first is focus, which means that you have to concentrate on your purpose or your dream. In addition, you have to get rid of everything which prevents you to reach your dream. The second is obsession, which means that you have to fill your mind with something that do you want to reach and believe that you will make it as many people say that you are what you think. Discipline is the last requirement which means that you have to be consistent with your schedule that you have made and spend your time doing everything positive which supports you to reach your dream. Besides the requirements, unforgettable you have to pray as God is the authority on our life. To conclude, many students want to be successful student but they do nothing, so you have to fill three requirements that are focus, obsession, and discipline.
#Explanation Paragraph
Yogyakarta, October 20, 2011
Nurul Hunafa
The Causes of Divorce
Divorce, ending of a marriage, occurs mainly due to personal and economical problems. Personal problems mean problems being from the own couple; for instance, misunderstanding, lack of trust, feeling unsuitable, and others. Marriage couples who get those problems don’t make it clear so the problems become on and on. Besides, some people, sometimes, consider economical problems being the cause of divorce. One of marriage couples feels his or her life happier, without less anything, before getting married than after getting married. In conclusion, divorce is generally brought about by personal and economical problems.
#Cause and Effect Paragraph
#Cause and Effect Paragraph
Yogyakarta, October 17, 2011
Nurul Hunafa
The Legend of Prambanan Temple
Once upon a time, there was a big kingdom named Prambanan which the people lived peaceful in. What happened then? Prambanan kingdom was attacked by the other kingdom, Penging kingdom, and the peace of Prambanan kingdom was destroyed. The soldiers of Prambanan kingdom could not face the enemies; accordingly, Prambanan kingdom was held by Penging kingdom which the leader was Bandung Bondowoso who was the cruel king; moreover, if there was someone not to do his command, he would give a punishment. When Bandung Bondowoso was walking around Prambanan kingdom, he saw Roro Jonggrang who the princess of Prambanan kingdom and he was interested in her or the other words, he was falling in love with her. Without thinking twice, Bandung Bondowoso decided to ask her to marry with himself. “What a beautiful you are! Will you marry me, my princess?”, said Bandung Bondowoso to Roro Jonggrang. Roro jonggrang was shocked to hear that and she thought the way how to refuse his asking. The following minutes, she got an idea in order that Bandung Bondowoso could not marry with her. “Ok, I will, but I don’t do it for free”. Roro Jonggrang answered. “Excuse me, I beg your pardon?” Bandung Bondowoso didn’t understand what Roro Jonggrang said. “I have a requirement. You must make 1000 temples in a night”. Roro Jonggrang explained. Bandung Bondowoso felt worried about her requirement; additionally, he asked his adviser how to make 1000 temples in a night. His adviser said that he could make 1000 temples in a night with evils help. In that night, he prepared the equipment to make temples and the evils did it. After a few moments, the evils could finish 999 temples. Roro Jonggrang who saw it didn’t believe her eyes and looked for an idea so that the evils could not finish on time. Roro Jonggrang requested Lady Maid to burn straw as it would look like breaking dawn which the evils were afraid of. She made it! The evils who tried to finish the last temple saw the straw burnt and thought that the sun would rise; furtherwise, it would burn their body; hence, they ran. Bandung Bondowoso was surprised to see what the evils did; nevertheless, he guessed the evils had finished those. The following day, Bandung Bondowoso who felt proud of himself as he thought he could complete what Roro Jonggrang wanted invited Roro Jonggrang to look at the temples. Roro Jonggrang who knew what had happened accounted the temples with feeling free. “Those were only 999 temples.” Roro Jonggang said. Bandung Bondowoso didn’t believe his ears and looked at Roro Jonggrang then, with feeling angry, he said “You must be the complement!” Suddenly, Roro Jonggrang became a statue which completed the thousandth temple. Nowadays, that we can see the temple which is one of the tourism places in Yogyakarta is the Prambanan Temple.
|
My Hometown
Lamongan, it is famous town moreover since Bali bombing, but don’t worry because it’s over. Now, I am going to talk about some beautiful places in Lamongan, my hometown. Yeah, I come from Lamongan where I was born in, but I haven’t known well about Lamongan because since Junior High School I studied in the other town.
Before telling my hometown, I’m going to tell you about my home. My home isn’t located central town however in small place near Java Sea, only about 200 meters. The other word, I’m a beach person. From second floor of my home, I can see the wave of Java Sea and feel the cool wind. I also can see sunrise and sunset every day without going to Bali or other places.
10 kilometers from my home, exactly in Paciran, there is WBL (Wisata Bahari Lamongan) of Tanjung Kodok, tourism place, where we can study while having fun or some people call it, Jatim Park 2 (Jawa Timur Park 2). In the past it was Tanjung Kodok. “Kodok” is the Javanese language which in English is a frog. The place derives its name, Tanjung Kodok, from a stone formation, which resembles a frog (kodok). Tanjung Kodok has story which was resting place of Sunan Drajat and Sunan Sendang Duwur.
In front of WBL, there is Gua Maharani (Maharani Cave). Maharani consists of two words, maha and rani. Maha means “very” and rani means “colorful”. It causes if you enter on Maharani Cave, you will see the color of stalactite and stalagmite, very beautiful.
Beside those, there are still many tourism places in Lamongan, such as Waduk Gondang and the others. In Lamongan, we can also visit the grave of Sunan Drajat, one of walisongo and Sunan Maulana Ishak, father of Sunan Maulana Malik Ibrahim.
After talking about tourism places in Lamongan, unforgettable I am going to talk about typical foods of Lamongan.
I am going to tell you the most famous typical food of Lamongan, Soto Lamongan. The difference between Soto Lamongan and the other soto is that Soto Lamongan is the only soto using koya or some kind like garlic powder and consist of rice, an egg, soun noodle, soup, and chicken which is been steam with the spice before.
Not only Soto Lamongan but the other typical foods as well have to be tasted when coming to Lamongan such as tahu campur, tahu tek tek, wingko babat, jumbreg, es dawet and others. So, let’s go to Lamongan.
Before telling my hometown, I’m going to tell you about my home. My home isn’t located central town however in small place near Java Sea, only about 200 meters. The other word, I’m a beach person. From second floor of my home, I can see the wave of Java Sea and feel the cool wind. I also can see sunrise and sunset every day without going to Bali or other places.
10 kilometers from my home, exactly in Paciran, there is WBL (Wisata Bahari Lamongan) of Tanjung Kodok, tourism place, where we can study while having fun or some people call it, Jatim Park 2 (Jawa Timur Park 2). In the past it was Tanjung Kodok. “Kodok” is the Javanese language which in English is a frog. The place derives its name, Tanjung Kodok, from a stone formation, which resembles a frog (kodok). Tanjung Kodok has story which was resting place of Sunan Drajat and Sunan Sendang Duwur.
In front of WBL, there is Gua Maharani (Maharani Cave). Maharani consists of two words, maha and rani. Maha means “very” and rani means “colorful”. It causes if you enter on Maharani Cave, you will see the color of stalactite and stalagmite, very beautiful.
Beside those, there are still many tourism places in Lamongan, such as Waduk Gondang and the others. In Lamongan, we can also visit the grave of Sunan Drajat, one of walisongo and Sunan Maulana Ishak, father of Sunan Maulana Malik Ibrahim.
After talking about tourism places in Lamongan, unforgettable I am going to talk about typical foods of Lamongan.
I am going to tell you the most famous typical food of Lamongan, Soto Lamongan. The difference between Soto Lamongan and the other soto is that Soto Lamongan is the only soto using koya or some kind like garlic powder and consist of rice, an egg, soun noodle, soup, and chicken which is been steam with the spice before.
Not only Soto Lamongan but the other typical foods as well have to be tasted when coming to Lamongan such as tahu campur, tahu tek tek, wingko babat, jumbreg, es dawet and others. So, let’s go to Lamongan.
Yogyakarta, October 17, 2011
Nurul Hunafa
My Future Activities
Tomorrow is Sunday and it means tomorrow is holiday. I have some plans spending my time. About 9 o’clock I will go to my best friend’s boarding house to return her dress which I borrowed for MATAF and take my book that she borrowed when she came to my home. Actually, those aren’t important things. The real is I miss her because we haven’t met and spent our time together for long time.
I’ll ask her to eat pecel in small restaurant near her boarding house which many people say that it’s delicious pecel in this place. Even though it’s not special and expensive food but the important thing is our togetherness and every we eat pecel, we feel that we go to the last memories in a place where we met for the first time. I’ll also ask her to go to our favourite place and share everything which we have done or will do as long as we haven’t met.
It’s my activities which I’ll do tomorrow. I’ll spend my time to refresh my brain because during a week we’re busy with our activities and next week we’ll do it again.
I’ll ask her to eat pecel in small restaurant near her boarding house which many people say that it’s delicious pecel in this place. Even though it’s not special and expensive food but the important thing is our togetherness and every we eat pecel, we feel that we go to the last memories in a place where we met for the first time. I’ll also ask her to go to our favourite place and share everything which we have done or will do as long as we haven’t met.
It’s my activities which I’ll do tomorrow. I’ll spend my time to refresh my brain because during a week we’re busy with our activities and next week we’ll do it again.
Yogyakarta, September 18, 2011
Nurul Hunafa
Past Activities
At 3 o’clock, my alarm rang but I didn’t care and got back to sleep. If the alarm has not been turned off, it would have rung every nine minutes, and I really got up at 03.36 am when sixth sound. I went to bathroom, take a wudhu, and prayed. Early morning, I was going to do my homework which I haven’t done it yet as the night before the computer was used by my sister. At 04.45 am, I took a break for a few minutes to pray subuh and continued it till 05.30 am as long as I should take a bath and prepare to go to the university. My class was started at 7 o’clock so I went to the collage 40 minutes before started as from my home to the university took 30 minutes.
My class was over at 10.20 am but I didn’t go home directly, so long as my friends and I had an appointment to do group assignments. At 01.00 pm, we finished and my friends went home whereas I prayed dzuhur before going to the library to search some references for my homeworks.
About 02.47 pm, I left the university and dropped in my girl friend’s boarding house to take my things but she was in her university and would go back at 05.30 pm. I got confused what I should do as it’s too long and if I went home first, it’s so far to go back again. Finally I went to several book stores, had lunch, and prayed ashar. When maghrib time she hasn’t gone home yet. I sent her a message asking whether she wanted me to pick her up and she said she would love to. At her university, not crossing my mind I met my boy friend when elementary school. We talked a couple of minutes though actually we still wanted to talk for long time but I should go home, and someday we would meet and talk how long we want. Taking my things and praying maghrib in my girl friend’s boarding house, I went home about 06.48 pm.
At 08.00 pm, after praying isya’, I studied and did my homeworks. When a clock showed 11.00 pm, I was done but I couldn’t sleep. At 12.30 am, I tried to close my eyes, prayed, thanked to God, and said good night to myself and the nature.
My class was over at 10.20 am but I didn’t go home directly, so long as my friends and I had an appointment to do group assignments. At 01.00 pm, we finished and my friends went home whereas I prayed dzuhur before going to the library to search some references for my homeworks.
About 02.47 pm, I left the university and dropped in my girl friend’s boarding house to take my things but she was in her university and would go back at 05.30 pm. I got confused what I should do as it’s too long and if I went home first, it’s so far to go back again. Finally I went to several book stores, had lunch, and prayed ashar. When maghrib time she hasn’t gone home yet. I sent her a message asking whether she wanted me to pick her up and she said she would love to. At her university, not crossing my mind I met my boy friend when elementary school. We talked a couple of minutes though actually we still wanted to talk for long time but I should go home, and someday we would meet and talk how long we want. Taking my things and praying maghrib in my girl friend’s boarding house, I went home about 06.48 pm.
At 08.00 pm, after praying isya’, I studied and did my homeworks. When a clock showed 11.00 pm, I was done but I couldn’t sleep. At 12.30 am, I tried to close my eyes, prayed, thanked to God, and said good night to myself and the nature.
Yogyakrta, September 18, 2011
Nurul Hunafa
My Daily Activities
5 o’clock, it’s time to me to get up but it’s bitter cold to take a bath at that time, so I just take a wudhu and pray subuh. While waiting for 05.30 am, I spend my time reading a book about 15 minutes and looking into some equipment for going to the university. If I have class at 7 o’clock I’ll take a bath at 5.30 am but if I have class above 9 o’clock I’ll help my sister to cook for breakfast previously.
Every morning, before going to the university, I always drink coffee. Sometimes, I feel it help me to stay up or not to be sleepy and I guess I’m addicted to coffee.
I always go to the university about 40 minutes before my class is started as from my home to the university takes 30 minutes. After my class is over, I don’t go home directly but I discuss with my friends talking about our assignments and usually I arrive at home approximately 04.30 pm even maghrib.
After taking a bath and praying maghrib, I recite Al-Qur’an about 15 minutes then I have dinner while waiting for isya’ time. Praying isya’, I study and do my homeworks and unforgettable I make coffee in order that I’m awake. Yeah, books, pens, and a cup of coffee are my best friends which always accompany me every night as sometimes I can’t sleep till 12.00 am or more.
Those are my activities from getting up to getting back to sleep.
Every morning, before going to the university, I always drink coffee. Sometimes, I feel it help me to stay up or not to be sleepy and I guess I’m addicted to coffee.
I always go to the university about 40 minutes before my class is started as from my home to the university takes 30 minutes. After my class is over, I don’t go home directly but I discuss with my friends talking about our assignments and usually I arrive at home approximately 04.30 pm even maghrib.
After taking a bath and praying maghrib, I recite Al-Qur’an about 15 minutes then I have dinner while waiting for isya’ time. Praying isya’, I study and do my homeworks and unforgettable I make coffee in order that I’m awake. Yeah, books, pens, and a cup of coffee are my best friends which always accompany me every night as sometimes I can’t sleep till 12.00 am or more.
Those are my activities from getting up to getting back to sleep.
Yogyakarta, September 14, 2011
Nurul Hunafa
Hello world!
Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. Lanjutkan dengan menuliskan hal-hal lainnya.
Selamat blogging di UMY Community.
Selamat blogging di UMY Community.
Langganan:
Postingan (Atom)