Jumat, 20 Januari 2012

Hatiku Berbisik

Kita mengejar waktu  atau kita dikejar waktu.

 

Kita tak pernah tau.

 

 

Teringat perkataan seorang teman semasa SMA bahwa kamu tidak akan pernah tahu rasanya suatu hal itu terjadi jika kau TIDAK MENGALAMINYA SENDIRI!

 

Dan Tuhan menghendaki aku mengalaminya.

 

Dulu aku selalu betanya-tanya “waktu adalah uang”, is it right? Istilah yang anak play group saja mengenalnya. Istilah yang bagiku -saat itu- hanyalah sebuah istilah yang selalu berselaras dengan seorang yang sedang berpidato tentang the importance of time atau pun seorang motivator yang selalu didatangkan di sekolah-sekolah untuk membangkitkan siwa/siswi kelas akhir yang akan mmenghadapi ujian nasional agar mau belajar.

 

Kuakui aku tak suka dengan waktu luangku yang hanya ku isi dengan merebahkan tubuh di atas kasur, menikmati dinginnya angin yang terperangkap di dalam kamar miniku (gara-gara kalau belum nyalain kipas angin rasanya gag afdhol, #plak hahaha....).  Lebih baik aku bermain dengan teman-teman atau pun mengahabiskan bensin motorku keliling entah ke mana, the important thing aku tidak membekukan diriku dalam kamar. Lying on my bed. Not doing anything. (Lho, ko jadi lagunya J**** M*** -maaf sensor, aku tidak dibayar untuk promosi- hahaha....).

 

Entah sengaja lupa atau memang lupa, saat rasa kebosanan mencoba mengalahkanku seolah semua yang harus kuraih perlahan kusangsikan. I just did what I wanted to do. Sampai suatu ketika aku ingin merasakan masa itu lagi. Masa di mana aku mulai berani dan bersemangat mengukir mimpi-mimpi dengan kawan-kawan terhebatku. Mimpi yang ‘gila’! Benar-benar ‘gila’! Yang mana kita tak akan menyebut itu sebuah mimpi jika itu bukanlah sebuah hal yang ‘gila’. Terdengar konyol namun itulah aku dan masa itu.

 

Mengukir mimpi dan tak tahu kapan kan menjadi fakta. Senang. Indah. Mereka mengajarkanku berbagai hal. Dan unfortunatelly, aku masih tak merasakan “waktu adalah uang”. Masih dan masih hanya sebuah istilah. Aku sendiri heran mengapa istilah itu tak berpengaruh dan tidak ada efeknya sedukit pun. Aku ceritakan kepadamu, kawan, kisah yang ku alami namun aku tak menyadari hingga aku pergi dari tempat itu dan hanya disadarkan oleh sebuah catatan seorang kawan yang tak begitu ku kenal.

 

Di tempat di mana mimpiku semakin ‘gila’, kebanyakan orang menghabiskan waktu 17 jam untuk belajar. 17 jam. Kau bisa bayangkan itu, kawan! Sekarang kita bermain matematika sederhana. Satu hari kita punya 24 jam yang 17 jam telah kita gunakan untuk belajar, 2 sampai 3 jam kita gunakan untuk mandi, sholat, makan, dan lainnya, tersisa sekitar 4 jam. Itulah waktu tidur kita. Aku sendiri pun menikmatinya. Tak pernah protes waktu tidur yang hanya 4 – 5 jam sehari. Bahkan tidur 2 jam pun sering ku alami. Lagi, istilah “waktu adalah uang” tak berhasil merasuki kalbuku.

 

Sampai suatu ketika, aku mendapatkan kesibukan yang telah lama kunanti. Jadwal yang sengaja ku padatkan agar tak hanya “memikirkan yang tak perlu dipikirkan” (bengong maksudnya, biar tulisannya panjang. #plak. Hahaha...). Satu detik sangat amat sayang sekali banget (kurang lebay apa coba..??? #plak) bila terlewatkan. Jadwal belajar di kampus pagi hari, siang mengutak-atik file-file di perpustakaan mini, berlanjut belajar dengan anak-anak yang luar biasa yang terkadang sampai jam sembilan malam lebih. (akhirnya motoran ngebut takut kosan sudah dikunci, kalau nasibnya lagi kurang beruntung alias kosan sudah dikunci, tempat tinggal seorang teman siap-siaplah menjadi sasaran. Btw, terima kasih ya yang sering ku repotin buat nginap, katamu kan tamu adalah raja. Hahaha...V). Tak berakhir di jam sembilan kawan, aku juga harus menyiapkan materi untuk si bocah-bocah luar biasa itu. Satu hal yang selalu ku syukuri bahwa aku tak melupakan kewajibanku sebagai pelajar. Aku menyadari konsekuensi aku memilih menghabiskan waktu tiga per empat dalam sehariku untuk itu semua. Aku masih ingat tugas-tugasku. Tugas-tugas yang akan menumpuk bila tak mencoba menyelesaikannya perlahan. Tugas yang aku yakin bisa menyelesaikannya bila ada ‘alat’ yang mendukung. (Thanks a truck buat ‘alat’nya yang sering ku ‘sita’ dan itu tidak hanya sekali namun berkali-kali J).

 

Perlahan aku merasakan I’m as busy as a bee. Perlahan pula ku merasakan “time is money”. Itulah sebabnya aku ingin marah tapi tak punya hak untuk memarahi mereka yang menggombal meminta extension kepada dosen. Mengapa mereka tak menyelesaikan di hari yang telah ditentukan? Sesibuk apakah mereka? Mungkin aku terlalu egois bila hanya membandingkan semuanya dengankku. Bukankah Tuhan menciptakan kita dalam keadaan yang berbeda-beda? Lagipula aku tak mau bersuudzon kepada mereka. Mungkin saja mereka lebih sibuk dariku. Mungkin! Tapi maaf aku belum menemukan bukti dari kesemuanya, hanya beberapa. Ambil saja contoh satu-satunya orang yang mendapat panggilan ‘kakak’ dariku di kelas, dia yang harus berusaha mendapatkan biaya untuk studinya, atau orang yang sering duduk bersebelahan denganku saat awal-awal masuk kuliah, mereka yang menikmati pekerjaannya untuk mengisi waktu luang, dan mereka yang waktunya telah sakral untuk belajar di kampus dan melakukan aktivitas diluar itu, toh kewajibannya terselesaikan tepat waktu.

 

Bagiku, zona mereka terlalu aman. Tak mau sedikit saja mencoba mengintip dan perlahan keluar dari guanya. Hanya ingin dan ingin menjadi terbaik tanpa mencoba melakukan yang terbaik. Kita sama dalam artian kita ingin menjemput mimpi-mimpi kita, yang membedakan hanya aku berani melangkahkan kakiku di atas jalanan terjal bukan jalanan ‘beraspal’. Sebenarnya aku tak punya hak untuk memperpanjang-lebarkan semua ini. Aku yakin berbagai pujian bahkan cacian akan menghantamku. Atau pun tiba-tiba membenciku dan menjadikanku top of the heated person, it’s fine! I don’t care at all. Aku hanya tidak rela seorang teman yang sering berbagi, tertawa, dan belajar dalam satu atap denganku, menemukan jalan yang buntu.  Aku ingin menggenggam puncak itu bersama kalian karena aku menyayangi kalian, dan tanpa kalian semua tak akan menjadi sejarah.

 

Yogyakarta, January 20, 2012


07.28 a.m




Alpha Ey Sirius Syam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar