Senin, 07 November 2011

Idul Adha Berbaur Gerimis Fajar

Pagi, sekitar pukul 03.50, tak hanya merdunya adzan subuh membisik di telinga, gerimis yang semakin menderas pun ikut berbaur. Ku buka almari dan ku ambil baju krem -satu-satunya baju yang menurutku layak untuk sholat id nanti -. Sejuta memori kampung halaman menyelinap.

Setiap hari raya, pukul 03.00 adalah waktu yang biasa di keluargaku untuk membuka mata dan mempersiapkan segalanya. Kini, di ruang 3x3 meter aku melakukan semua itu sendiri. Bukan jam 03.00. Tapi subuh. Ku seterika baju dan mukenah. Kembali teringat suasana gubuk sederhana yang jaraknya beratus-ratus kilometer dari tempatku berpijak. Sehari sebelum hari raya, dan sudah menjadi kebiasaan, aku berubah menjadi juru setrika. Ku minta semua pakaian keluargaku, bunda, ayahanda, kakak-kakak, serta adik-adikku, menyeterikat yang terkadang tak selesai dalam semalam hingga aku harus bangun jam 3 pagi untuk melanjutkannya.

Pekerjaanku tak seberapa, bunda-lah yang keringatnya seolah harus bercucuran terus menerus.
Bunda. Ah, sosok beliau tak pernah tergantikan. Sampai kapan pun! Bunda, yang tidur bada isya guna mengumpulkan tenaga setelah seharian mengurusi rumah, saat terbangun sekitar pukul 11 malam, langsung sibuk dengan urusan dapur. Terkadang ku sudahi seterikaanku -padahal belum selesai- hanya untuk melihat bunda membuat opor ayam - yang telah ku request untuk makan setelah sholat id nanti - dan soto kesukaan adik-adikku. Pernah ku meminta bunda melakukan itu semua pada jam 3 pagi, bukan di malam hari seperti itu, jawaban bunda sederhana 'kalau ndak disiapkan sekarang, besok pagi sudah ribet ngurusicenceremennduk.' -cenceremen, sebutan untuk adik-adikku yang begitu aktif. Sejak itu, aku tak pernah mengganggu bunda di tidur bada isya beliau. Kalau pun ada orang yang datang dan meminta untuk membangunkan beliau, ku hanya bilang 'datanglah lagi esok.' Tak pernah ku membangunkan tidur bunda. Waktu tidur bunda seolah menjaga permata yang menjadi incaran pencuri internasional. Aku bukan berlebihan, kawan, tapi memang itulah kenyataannya.
Oh Bunda, anakmu yang selalu membuatmu gelisah, rindu!

Gema takbir bersahutan memecah gemuruh gerimis fajar. Sembari tetap menari-narikan seterika di atas mukenah, aku pun menyahut. Ku bayangkan sosok Ayahanda yang memimpin kita melantunkan takbir setelah menjadi Imam sholat maghrib. Ya, meski hanya beberapa menit, ku merasakan indahnya lafadz-lafadz takbir yang terlantun.

Allahu akbar...
Takbiratul ihram terucap dari bibir imam di masjid, tempat aku menunaikan sholat id. Hatiku damai. Sayang, Bunda tak sholat di sampingku.
Aku selalu ingin berada tepat di samping Bunda ketika sholat agar tak didahului orang lain 'tuk menjabat dan mencium tangannya yang suci. Di sini, hanya melalui angin ku sampaikan salam cinta untuknya. Bunda, terimalah maaf dari anakmu yang selalu takberdaya melihat tangismu, namun selalu merepotkanmu.

Seusai sholat, bersama adik laki-lakiku, Jabbar, Ayahanda telah menunggu Bunda, adik-adikku, dan aku di luar masjid 'tuk pulang bersama. Dan inilah saat -yang kebanyakan tetanggaku berkata bahwa andai keluarga mereka seperti keluargaku- yang aku sukai. Menikmati opor ala Bunda. Bersama-sama di ruang tamu atau tengah yang telah bergabung menjadi satu. Lesehan. Ya lesehan. Di rumah tak ada kursi. Semua serba lesehan. Namun itulah yang menjadikan kita melingkar, menautkan kebersamaan setiap menikmati hidangan Bunda.

Pernah suatu hari raya, Ayahanda dipersilahkan menikmati hidangan di rumah salah seorang ta'mir masjid bersama teman-teman Ayahanda lainnya. Sebut saja namanyat Pak Haji. Pak Haji menggandeng Ayahanda di saat menunggu kami di pintu masjid. Selezat apa pun hidangan Bunda, akan terasa yang mengganjal jika salah satu dari kita tak menikmati di rumah serba lesehan ini. Namun ketika Ayahanda menolak ajakan Pak Haji dengan halus, hatiku melompat kegirangan. Oh Ayahanda, aku rindu.

Hidangan yang disulap menjadi istimewa oleh bunda kita nikmati dengan cara yang menurut kebanyakan orang adalah suatu hal yang aneh. Opor ayam kita beri sentuhan kecap manis yang melumer di atas piring kami dan hal unik lainnya, perebutan kepala ayam. Ya, kepala ayam. Hari raya dikeluargaku bukanlah waktu untuk berebut daging ayam, melainkan kepala ayam. Mataku dan mata adik-adikku hanya akan berubah hijau ketika melihat daging ayam di kentucky dan itu pun bukan waktu hari raya. Oh, adik-adikku, aku rindu!

Adalah kali keduanya ku tak merayakan hari raya di 'kampuang nan jauh di mato'. Melantunkan takbir kemenangan bersama gerimis fajar. Bersama angin, burung-burung, dan alam yang meneruskan lafadz indah-Mu ketika ku bersimpuh dan bersujud kepada-Mu, Ya Rabb...

Selamat Hari Raya Idul Adha

Yogyakarta, 06 November 2011 / 10 Dzulhijjah.
11.52 a.m

Tidak ada komentar:

Posting Komentar