Selasa, 29 November 2011

It's Alive

Kita sama-sama tak pernah menginginkan berada di tempat ini. Jangankan membayangkan, untuk berniat membayangkan saja, tak pernah ada di benak kita. Mimpi yang tak sejalan dengan peta alphabet masa yang kita inginkan, melabuhkan kita di tembolok ini. Dan… Siang ini Tuhan mengirim jawaban mengapa aku harus mengarungi hari seperti ini, di tempat yang tak pernah kutorehkan dengan tinta mimpiku.  Yeah, Tuhan menunjukkan kasih sayang-Nya kepada kita dengan cara yang terkadang tak kita mengerti.

Berawal dari sebuah komik, “kebegoan-kebegoan” kita dipertemukan. Di tempat yang tak seorang pun ku kenal, ku lalui hari “peperangan” pertamaku. Berniat tak memedulikan siapa pun dan apa pun. Saat itu ku hanya tertarik dengan komik yang dibawanya, Detective Conan 63. Setelah membacanya, tinggal ku kembalikan, dan hubunganku dengannya END. Tak ingin mengenal lebih jauh. Siapa dia, asalnya dari mana, dan apa latar belakangnya, masa bodoh. Hari pertama masuk kuliah, ku kembalikan komik, seperti rencana semula, ku tak ingin mengundang siapa pun ke dalam hari-hariku. Semua itu hanya akan membuat apa yang kurasakan semakin menyakitkan. Yeah, itulah anggapanku yang ketika aku tak mau mendengarkan siapa pun dan aku yang berusaha menahan kesakitan yang entah kapan akan tertebus.

Adalah waktu yang perlahan menuntunku. Duduk di kelas yang terlalu sering bersebelahan, ide-ide yang tanpa sengaja equal seolah dendrite dan akson kita menyatu, pendapat-pendapat yang membuat kita harus sedikit memaksa syaraf-syaraf di otak kita bekerja lebih keras, semua itu bah penyatu kita, penyatu tanpa kita harus mengikrarkan “sebuah janji pertemanan” yang sering digembor-gemborkan. Kita hanya mengikuti tapak langkah yang digariskan Tuhan. Di detik itulah ku merasa Tuhan tak pernah membiarkan aku sendirian.

Pelangi mulai muncul dari persembunyian tidurnya. Ku mulai mengatakan “the pain still lingers in my heart”. (Kata-kata yang sekarang malah jadi bahan untuk menertawakan “kebegoaan” kita. Hahaha……) Dan, saat itu juga aku mengetahui bahwa keadaan kita tak berbeda. Yang membedakan hanya, dia telah merobek semua imajinasi masanya sedangkan aku menyimpannya rapat-rapat dalam amplop, tak pernah ku buka.

Angin membisikiku bahwa bukanlah saatnya aku harus hidup dalam bayang-bayang mimpi dan kesakitan. Saatnya aku kembali menjadi diriku atau bahkan lebih baik. Kini ku mulai menikmati jalannya detik ke menit, ke jam, ke hari bahkan ke bulan.  Menjalani “kebegoan-kebegoan” denganya, menyusun rencana dari ide-ide “gila” kita, menjahili setiap teman-teman baik seangkatan atau senior, bahkan dosen pun tanpa terkecuali, bersikap “nakal” yang bagi kita “nakal kita punya arah, aturan, dan batasan” (nakal ko….??? Hahaha…), menikmati udara jalanan sampai hampir tengah malam (teman-teman yang nggak terbiasa sampai tugasnya terbengkalai, hahaha,,, – jalan-jalan dan nakal boleh asal tugas selesai tepat waktu (prinsip kita) hahaha… –). Dan satu hal yang sama yang masih tertanam dalam 5 cm kita, kita akan tetap mencoba menyusun kepingan-kepingan yang berserakan dalam ketidakpastian. Karena memang satu-satunya hal yang tidak pasti di dunia ini hanyalah ketidakpastian itu sendiri (Albert Einstein). Kiita percaya bahwa it’s good to have a big dream. Even if our dream is shattered, the shattered pieces are still big. Dan, Tuhan pun membiarkan aku menyelam ke palung agar aku bisa belajar lebih banyak serta menikmati perputaran roda, daripada mereka yang telah terbang di atas awan selangkah lebih awal daripadaku.

 

Yogyakarta, 29 November 2011


4.07 pm



Nurul Hunafa



#tatapansianglayardreamhighbersamasicoolkiddylan

1 komentar:

  1. [...] Kita sama-sama tak pernah menginginkan berada di tempat ini. Jangankan membayangkan, untuk berniat membayangkan saja, tak pernah ada di benak kita. Baca Selengkapnya: http://blog.umy.ac.id/nurulhunafa/2011/11/29/its-alive/ [...]

    BalasHapus